Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Kerusakan Hutan Hulu Picu Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera

Sains
Iklim dan Lingkungan
climate-and-environment (4mo ago) climate-and-environment (4mo ago)
01 Des 2025
292 dibaca
2 menit
Kerusakan Hutan Hulu Picu Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera

Rangkuman 15 Detik

Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan siklus air dan mencegah bencana banjir.
Deforestasi yang masif di Sumatera Barat dan Sumatera Utara meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Pentingnya menjaga ekosistem hutan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif perubahan iklim dan bencana alam.
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh pada akhir November 2025 disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah curah hujan yang tinggi. Namun, penyebab lainnya yang tak kalah penting adalah kerusakan hutan di daerah aliran sungai (DAS) yang berada di hulu wilayah tersebut. Hutan di hulu DAS berfungsi sebagai penyerap air yang membantu mengontrol aliran air hujan agar tidak langsung mengalir deras ke sungai. Menurut penelitian dari Universitas Gadjah Mada, hutan di wilayah tropis seperti Kalimantan dan Sumatera dapat menyerap 15-35% air hujan yang jatuh di tajuk pohon. Selain itu, tanah yang tidak terganggu bisa menyerap hingga 55% air ke dalam tanah sehingga hanya 10-20% air hujan yang langsung mengalir ke sungai. Hutan juga mengembalikan 25-40% air ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi yang membantu keseimbangan air di alam. Saat hutan di hulu mengalami kerusakan atau menjadi gundul, maka peran penting hutan dalam menyerap dan mengendalikan air tersebut hilang. Akibatnya, air hujan yang deras langsung menjadi limpasan permukaan dan mengalir ke hilir dengan cepat, meningkatkan risiko banjir. Kerusakan hutan juga menyebabkan tanah mudah longsor dan material seperti batu dan batang pohon terbawa ke sungai, yang lama kelamaan menyumbat aliran sungai. Pendangkalan dan penyempitan aliran sungai akibat sedimentasi yang berasal dari erosi hutan hulu ini menambah risiko luapan air banjir. Data dari berbagai lembaga menunjukkan deforestasi besar-besaran telah terjadi di beberapa wilayah Sumatera. Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektar hutan selama 1990-2020. Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga mengalami penurunan luas hutan sangat signifikan, yang memperparah kondisi bencana alam di sana. Sisa hutan yang masih ada sering terletak di lereng curam Bukit Barisan sehingga sangat rentan terhadap tanah longsor dan banjir bandang. Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan upaya pelestarian hutan dan rehabilitasi agar bencana yang merugikan tidak terus terjadi di masa depan.

Analisis Ahli

Hatma Suryatmojo
Peran hutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan siklus air. Hilangnya fungsi hutan menyebabkan limpasan air hujan meningkat dan risiko banjir serta longsor juga meningkat.