Siklon Tropis Picu Banjir dan Longsor Mematikan di Sumatera Utara
Sains
Iklim dan Lingkungan
27 Nov 2025
102 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Siklon Tropis Senyar dan KOTO memicu cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia.
Bencana hidrometeorologi telah menyebabkan kerugian jiwa dan kerusakan infrastruktur di Sumatera Utara.
Pentingnya peran lembaga seperti BMKG dan BNPB dalam memberikan informasi dan penanganan bencana.
Pada akhir November 2025, dua siklon tropis berkembang di sekitar wilayah Sumatera yang menyebabkan cuaca ekstrem. Siklon Tropis Senyar dan KOTO memicu intensitas hujan tinggi dan gelombang laut yang berpotensi menimbulkan bencana di beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat.
BMKG dan BNPB telah mengeluarkan peringatan tentang potensi bencana hidrometeorologi akibat kondisi ini. Hujan deras yang berlangsung lebih dari dua hari telah menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa kecamatan di Sibolga, Sumatera Utara. Banjir mengalir deras membawa material lumpur dan puing bangunan, merusak rumah dan kendaraan.
Laporan sementara dari Polda Sumatera Utara menyebutkan ada 34 orang meninggal dunia dan 52 orang masih hilang akibat bencana. Hingga 26 November 2025, tercatat 148 kejadian bencana alam di 12 kabupaten dan kota yang terdampak, termasuk longsor, banjir, pohon tumbang, dan angin puting beliung.
Beberapa daerah seperti Medan dan Deli Serdang belum dapat melaporkan kondisi secara lengkap karena akses terputus akibat hujan terus menerus. Kerusakan infrastruktur dan akses yang terhambat menyulitkan evakuasi dan penanganan bencana secara optimal.
Penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan di masa mendatang dan memperkuat sistem penanggulangan bencana. Siklon tropis dan cuaca ekstrem lainnya bisa terus terjadi hingga beberapa hari ke depan, sehingga kesiapsiagaan dini harus menjadi prioritas utama.
Analisis Ahli
Meteorolog Indonesia
Siklon tropis yang berkembang di wilayah Indonesia bagian barat menunjukkan pola pergeseran musim yang tidak menentu akibat perubahan iklim global, sehingga potensi bencana hidrometeorologi harus menjadi perhatian utama bagi kebijakan kesiapsiagaan nasional.

