TLDR
Anomali Appalachian Utara memiliki dampak signifikan pada stabilitas dan ketinggian Pegunungan Appalachian. Teori gelombang mantel menunjukkan bagaimana pemisahan kontinental mempengaruhi pergerakan batu panas di dalam bumi. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang dinamika geologi dan dampaknya terhadap iklim dan lingkungan. Para ilmuwan baru saja mengungkapkan sebuah fenomena luar biasa yang terjadi jauh di dalam bumi, tepatnya sekitar 200 km di bawah Pegunungan Appalachian, Amerika Serikat. Fenomena ini berupa sebuah kantong besar batuan panas yang bergerak sangat lambat, yang mungkin menjadi alasan kenapa pegunungan purba ini masih tinggi meskipun sudah sangat tua.Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Southampton menunjukkan bahwa kantong panas ini, disebut Northern Appalachian Anomaly atau NAA, terbentuk saat Greenland dan Amerika Utara mulai terpisah sekitar 80 juta tahun yang lalu. Sebelumnya, sumber panas ini disangka berasal dari peristiwa pemisahan benua yang berbeda, yakni pemisahan antara Amerika Utara dan Afrika Barat Laut sekitar 180 juta tahun lalu.Menurut teori gelombang mantel (mantle wave theory), ketika benua terpisah, batuan padat dan dingin di bawah kerak bumi mulai menetes ke dalam lapisan mantel yang lebih panas di bawahnya, mirip dengan tetesan yang bergerak di dalam lampu lava. Peristiwa ini menyebabkan batuan panas naik ke atas dan bergerak perlahan menyusuri dasar benua, membentuk gelombang panas yang dapat bertahan jutaan tahun.Hasil model komputer dan teknologi seismik menunjukkan bahwa NAA ini sudah berpindah sekitar 1,800 km dari tempat asalnya yang berada dekat Laut Labrador, dan sekarang bergerak ke arah barat daya di bawah Amerika Utara. Menariknya, diperkirakan kantong panas ini akan melewati bawah wilayah New York dalam 10 sampai 15 juta tahun mendatang.Di wilayah utara Greenland juga ditemukan anomali panas serupa yang dipercaya terbentuk saat pemisahan benua yang sama. Anomali tersebut bahkan berdampak pada perubahan kecepatan aliran dan pencairan lapisan es di sana. Penemuan ini menambah pemahaman kita akan bagaimana proses dari dalam bumi mempengaruhi kondisi permukaan secara signifikan.