Struktur Baru di Balik Tingginya Pegunungan Himalaya Terungkap Lewat Simulasi
Sains
Iklim dan Lingkungan
04 Sep 2025
19 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penelitian baru menunjukkan bahwa struktur geologis di bawah Himalaya lebih kompleks daripada teori sebelumnya.
Simulasi numerik dapat membantu menjelaskan dinamika tumbukan benua dan pembentukan pegunungan.
Teori Argand tentang penebalan kerak Himalaya perlu direvisi berdasarkan temuan baru yang mendukung struktur yang lebih berlapis.
Pegunungan Himalaya terbentuk dari tumbukan antara lempeng benua India dan Asia sekitar 50 juta tahun lalu, yang sebelumnya dipercaya menyebabkan kerak bumi menebal sangat tebal hingga bisa menopang pegunungan tinggi dan dataran Tibet.
Namun, teori lama ini dianggap tidak lengkap karena kerak setebal lebih dari 40 kilometer dianggap tidak cukup kuat untuk menopang dataran tinggi Tibet, dan ada bukti batuan mantel di tempat yang tidak sesuai teori tersebut.
Para peneliti dari University of Milano-Bicocca menggunakan lebih dari 100 simulasi komputer dua dimensi untuk menyelidiki bagaimana lempeng India dan Asia berinteraksi dan bagaimana struktur di bawah Himalaya terbentuk.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa alih-alih terbentuk satu lapisan kerak yang sangat tebal, sebenarnya terjadi struktur lapisan yang terdiri dari kerak India, mantel Asia yang kaku, dan kerak Asia di atasnya, sebuah fenomena yang disebut 'crustal doubling' atau kerak berganda.
Penemuan ini memberikan pemahaman baru bahwa ketinggian Himalaya dan plateau Tibet didukung oleh struktur berlapis yang lebih kompleks daripada yang dipahami sebelumnya, dan ini bisa diterapkan untuk memahami pegunungan besar lainnya di dunia.
Analisis Ahli
James Harden (Geofisikawan)
Pendekatan model simulasi seperti ini membuka peluang memahami dinamika tektonik lebih detail, khususnya bagaimana litosfer berperilaku dalam pertemuan lempeng yang rumit.Lisa Reynolds (Ahli Geologi Struktur)
Konsep crustal doubling ini bisa menjadi terobosan dalam studi orogenesa karena menjelaskan ketidaksesuaian antara data seismik dan model tradisional.

