Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Lima Orang Bersalah Bantu Korea Utara Tipu Perusahaan AS Lewat Pekerjaan IT Palsu

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (4mo ago) cyber-security (4mo ago)
15 Nov 2025
297 dibaca
2 menit
Lima Orang Bersalah Bantu Korea Utara Tipu Perusahaan AS Lewat Pekerjaan IT Palsu

Rangkuman 15 Detik

Lima orang diadili karena membantu Korea Utara dalam penipuan pekerjaan IT.
Skema ini menghasilkan $2,2 juta untuk mendanai program senjata nuklir Korea Utara.
Departemen Kehakiman AS berkomitmen untuk mengatasi penipuan yang dilakukan oleh Korea Utara.
Lima orang mengaku bersalah karena membantu warga Korea Utara menyamar sebagai pekerja IT jarak jauh untuk menipu perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat. Mereka menggunakan identitas asli, palsu, atau curian dari warga AS agar para pekerja Korea Utara bisa mendapatkan pekerjaan tanpa diketahui bahwa mereka berada di luar negeri. Para pelaku juga mengatur agar komputer yang diberikan perusahaan dioperasikan dari rumah-rumah mereka di Amerika Serikat sehingga tampak seolah-olah para pekerja memang tinggal di negara tersebut. Skema ini menyeret sekitar 136 perusahaan dan menghasilkan uang sebesar 2,2 juta dolar untuk rezim Kim Jong Un. Tiga dari yang mengaku bersalah adalah warga AS yang membantu para pekerja IT Korea Utara untuk lolos dalam berbagai tahap pemeriksaan, termasuk tes narkoba. Salah satu di antaranya adalah anggota aktif militer AS yang menerima bayaran puluhan ribu dolar dari kegiatan tersebut. Selain itu, Erick Ntekereze Prince mengelola sebuah perusahaan yang menyediakan pekerja IT sertifikasi tapi sebenarnya tahu bahwa mereka bekerja dari luar negeri menggunakan identitas palsu. Sementara Oleksandr Didenko, warga Ukraina, mengaku mencuri identitas warga AS dan menjualnya kepada para pekerja Korea Utara. Departemen Kehakiman AS juga mengumumkan penyitaan lebih dari 15 juta dolar dalam bentuk cryptocurrency yang dicuri oleh peretas Korea Utara dari beberapa platform kripto selama tahun 2023. Kejahatan siber yang melibatkan kripto menjadi sumber dana besar bagi Korea Utara untuk program nuklirnya.

Analisis Ahli

Mikko Hypponen
Kasus ini merupakan contoh klasik bagaimana aktor negara menggunakan kejahatan siber sebagai alat pendanaan dan geopolitik, menuntut kolaborasi internasional yang lebih kuat dalam keamanan siber.