Taktik Rahasia Korea Utara Sasar Pekerjaan IT di AS untuk Hindari Sanksi
Teknologi
Keamanan Siber
30 Jun 2025
139 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Operasi penipuan identitas besar-besaran oleh Korea Utara terungkap di AS.
Dua individu ditangkap dan didakwa atas peran mereka dalam memfasilitasi pekerja teknologi jarak jauh Korea Utara.
Tindakan penegakan hukum ini menunjukkan upaya untuk menanggulangi infiltrasi asing dalam industri teknologi di AS.
Selama bertahun-tahun, Korea Utara menjalankan operasi rahasia dengan menugaskan warganya untuk melamar pekerjaan teknis jarak jauh di perusahaan-perusahaan Barat, terutama di Amerika Serikat. Mereka menggunakan identitas palsu dan mencuri identitas warga AS untuk mendapatkan pekerjaan tersebut tanpa terdeteksi.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat baru-baru ini melakukan operasi besar-besaran untuk menghentikan skema ini dengan menyita ratusan komputer dan menangkap sejumlah orang yang dianggap terlibat. Infrastruktur utama operasi ini, seperti laptop farm, banyak ditemukan di wilayah AS yang menjadi titik lemah utama.
Dua warga Amerika, Kejia Wang dan Zhenxing Wang, dituduh terlibat dalam skema ini yang juga melibatkan kolaborator dari Tiongkok dan Taiwan. Mereka membantu mencuri identitas warga AS dan memfasilitasi akses jarak jauh melalui peralatan khusus untuk para pekerja Korea Utara.
Selain keuntungan finansial, skema ini mencuri data sensitif termasuk teknologi pertahanan yang dilindungi oleh aturan internasional. Sebagian dana juga dicuri dari perusahaan kripto menggunakan akses insider dari pekerja yang menyamar.
Meski operasi ini memberikan pukulan besar bagi pihak Korea Utara, para ahli mengatakan skema seperti ini masih akan terus berjalan dan beradaptasi seiring upaya-upaya penanggulangan yang dilakukan oleh pihak berwenang di AS.
Analisis Ahli
Michael Barnhart
"Ini adalah titik lemah utama yang ketika dipadamkan, bisa memberikan dampak besar, namun adaptasi dan evolusi serangan dari Korea Utara akan terus berlanjut karena mereka selalu mengikuti perkembangan kejahatan siber lain."

