Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

AS Sanksi Jaringan Siber Korea Utara yang Menyusup lewat Pekerja Palsu

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (7mo ago) cyber-security (7mo ago)
27 Agt 2025
290 dibaca
2 menit
AS Sanksi Jaringan Siber Korea Utara yang Menyusup lewat Pekerja Palsu

Rangkuman 15 Detik

Korea Utara menggunakan jaringan penipuan untuk menyusup ke perusahaan-perusahaan AS dan mencuri data sensitif.
Sanksi terbaru oleh U.S. Treasury ditujukan untuk menghentikan operasi penipuan yang melibatkan pekerja IT palsu dari Korea Utara.
Penggunaan cryptocurrency dalam skema penipuan ini membantu Korea Utara menghindari sanksi internasional dan mendapatkan dana untuk program nuklirnya.
Baru-baru ini, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan pemberian sanksi terhadap jaringan penipuan internasional yang dijalankan oleh Korea Utara. Jaringan ini menggunakan taktik unik dengan mempekerjakan hacker yang menyamar sebagai pencari kerja resmi untuk masuk ke perusahaan-perusahaan di AS. Para hacker ini, setelah berhasil mendapatkan pekerjaan, tidak hanya menerima gaji dari perusahaan, tapi juga mencuri data rahasia dan melakukan pemerasan kepada perusahaan tersebut dengan mengancam akan merilis informasi yang dicuri jika tidak dibayar tebusan. Aksi penipuan ini telah menghasilkan setidaknya 1 juta dolar untuk rezim Korea Utara. Dana tersebut sangat penting bagi negara itu karena digunakan untuk mendanai program nuklir dan kegiatan lain yang dikenai sanksi internasional. Dalam tindakan terbaru, pemerintah AS mengenakan sanksi kepada beberapa individu dan perusahaan yang membantu operasi ini. Beberapa entitas penting yang disanksi termasuk Vitaliy Sergeyevich Andreyev yang membantu pencucian uang dalam bentuk cryptocurrency, dan perusahaan-perusahaan seperti Chinyong dan Shenyang Geumpungri yang mempekerjakan hacker palsu. Perusahaan di Amerika Serikat, dan yang berhubungan bisnis dengannya, sekarang diharuskan untuk memastikan mereka tidak mempekerjakan atau bertransaksi dengan individu dan perusahaan yang sudah masuk daftar sanksi agar terhindar dari risiko hukum dan kerugian akibat skema ini.

Analisis Ahli

Mikko Hyppönen (Chief Research Officer, F-Secure)
Strategi infiltrasi menggunakan pekerjaan palsu adalah cara lama yang telah diperbaharui oleh negara-negara seperti Korea Utara untuk menghindari deteksi, dan AS harus meningkatkan pertahanan internal serta standar audit karyawan untuk menghadapi ancaman ini.