TLDR
Emisi karbon global terus meningkat, terutama dari negara-negara berkembang. China berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan berinvestasi dalam energi bersih. COP30 menjadi platform penting untuk dialog dan tindakan terkait perubahan iklim global. Emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen diperkirakan akan meningkat sebesar 1,1% pada tahun ini menjadi 38,1 miliar ton CO2, menurut data dari Global Carbon Project. Kenaikan ini menunjukkan bahwa dunia masih terus bergantung pada energi fosil meskipun ada upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim.Beberapa peneliti mengemukakan bahwa puncak emisi karbon global mungkin sudah dekat, bahkan untuk China sebagai salah satu penyumbang emisi terbesar yang diprediksi mulai mengalami penurunan emisi sejak tahun 2024. Penurunan ini sebagian besar didorong oleh perubahan ekonomi di Cina, termasuk melemahnya pasar properti yang mengurangi permintaan untuk bahan konstruksi seperti semen dan baja.Secara global, emisi gas rumah kaca termasuk metana dan gas lainnya kini sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan sepuluh tahun lalu ketika Perjanjian Paris disepakati. Negara maju sudah menurunkan emisi mereka selama dua dekade terakhir, tetapi negara-negara berkembang mengalami peningkatan emisi karena pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan energi mereka yang tinggi.China memainkan peran besar dengan menyumbang hampir sepertiga dari emisi gas rumah kaca dunia. Namun, negara ini juga menjadi pemimpin dalam energi bersih, termasuk pengembangan kendaraan listrik serta energi angin dan surya, dan berkomitmen untuk menurunkan emisinya setidaknya 7% dari puncaknya pada 2035.Jika tren ini berlanjut, puncak emisi karbon global kemungkinan akan tercapai sekitar tahun 2030 dengan penurunan yang berkelanjutan setelahnya. Namun, para ahli mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan dunia telah sepenuhnya meninggalkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan lebih banyak tindakan diperlukan untuk mencapai target iklim yang disepakati.