AI summary
Target pengurangan emisi Tiongkok akan berdampak signifikan pada emisi global. Ini adalah pertama kalinya Tiongkok menetapkan target yang mencakup semua gas rumah kaca, termasuk metana dan nitrous oxide. Ada perdebatan di kalangan peneliti mengenai ambisi dan efektivitas target pengurangan emisi Tiongkok. China, sebagai penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca dunia, baru saja mengumumkan target baru untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 7 hingga 10 persen dari tingkat puncaknya pada tahun 2035. Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden Xi Jinping dalam pidato video pada KTT Iklim PBB tanggal 24 September. Langkah ini penting karena dapat memberikan gambaran bagaimana emisi dunia akan berubah dalam satu dekade ke depan.Sebelumnya, China sudah berjanji untuk mencapai puncak emisi karbon dioksida sebelum tahun 2030 dan mencapai netral karbon pada 2060. Namun, ini adalah pertama kalinya China secara resmi menyusun rencana pasca-puncak emisi yang melibatkan semua jenis gas rumah kaca, seperti metana dan gas nitrous oxide, bukan hanya CO₂. Para ahli menilai ini sebagai kemajuan karena menyertakan aspek yang lebih luas dari polutan gas rumah kaca.Meskipun langkah ini disambut baik, beberapa analis mengkritik target tersebut dianggap kurang ambisius. Mereka berpendapat bahwa pengurangan 7-10% tidak cukup untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris yang menargetkan pembatasan kenaikan suhu dunia di bawah 1,5 hingga 2 derajat Celsius. Terlebih lagi, cara China mendefinisikan angka tersebut sebagai persentase dari jumlah yang tidak spesifik membuat targetnya menjadi kurang transparan.Namun, juga ada pendapat yang lebih optimis, yang menyebut bahwa pengurangan total emisi gas rumah kaca sebesar itu secara tidak langsung berarti pengurangan emisi CO₂ yang lebih tinggi karena sulitnya memitigasi emisi non-CO₂. Studi yang dilakukan oleh Zhang Da dan koleganya menunjukkan bahwa dengan penurunan CO₂ sebesar 10-12% dari puncaknya pada 2035, China dapat meraih target netral karbon pada 2060 dan juga membantu dunia mencapai target suhu 2 derajat.Secara keseluruhan, keputusan China ini menjadi sinyal penting bagi dunia dalam upaya kolektif menghadapi perubahan iklim. Jika China berhasil menurunkan emisi sesuai dengan rencana, penurunan emisi global kemungkinan akan mulai terjadi setelah 2035. Namun, kecepatan dan transparansi pelaksanaan kebijakan ini tetap menjadi kunci agar target iklim global tercapai.
China memang mengambil langkah penting dengan menetapkan target jangka panjang yang jelas, tetapi cakupan dan ambisi target tersebut masih terlalu lemah jika ingin memenuhi standar iklim global. Dalam konteks krisis iklim saat ini, pengurangan 7-10% terasa kurang cepat dan bisa menghambat upaya dunia untuk mengklaim sukses dalam perang melawan perubahan iklim.