Penemuan Baru: Tanaman Pakis Memanen Mineral Tanah Jarang Secara Ramah Lingkungan
Sains
Iklim dan Lingkungan
12 Nov 2025
159 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penemuan mineral monazit di tanaman paku membuka peluang baru untuk ekstraksi unsur tanah jarang.
Pendekatan berbasis tanaman ini mendukung praktik berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya.
Kolaborasi internasional antara ilmuwan dari China dan AS menunjukkan pentingnya penelitian lintas negara dalam inovasi ilmiah.
Para ilmuwan dari China dan Amerika Serikat telah menemukan mineral tanah jarang yang terbentuk secara alami dalam sebuah tanaman pakis. Ini adalah yang pertama kali terjadi di dunia dan menandai kemajuan penting dalam teknologi ekstraksi mineral.
Mineral yang ditemukan adalah monasit dalam ukuran nanoscale, yang berisi unsur tanah jarang sangat dibutuhkan untuk berbagai perangkat teknologi modern seperti smartphone dan kendaraan listrik.
Penemuan ini membuka kemungkinan baru untuk metode ekstraksi tanah jarang yang disebut phytomining, yakni menggunakan tanaman hyperaccumulator yang dapat menyerap mineral dari tanah tercemar tanpa merusak lingkungan.
Metode ini tidak hanya memungkinkan ekstraksi mineral yang berharga, tapi juga membantu memulihkan tanah yang sebelumnya tercemar akibat limbah tambang tanah jarang, sehingga mengembalikan ekologi kawasan tersebut.
Penelitian ini dipublikasikan di jurnal terkemuka Environmental Science & Technology dan merupakan hasil kolaborasi antara Guangzhou Institute of Geochemistry dan Virginia Tech, yang diharapkan menjadi model ekonomi sirkular hijau di masa depan.
Analisis Ahli
Dr. Li Wei (Ahli geokimia Guangzhou Institute of Geochemistry)
Penelitian ini menandai terobosan besar dalam pemanfaatan tanaman sebagai alat ekstraksi mineral dengan cara yang sangat ramah lingkungan.Prof. Michael Johnson (Geosciences Virginia Tech)
Inovasi ini memperlihatkan potensi besar phytomining sebagai solusi masa depan untuk tantangan pemulihan sumber daya dan lingkungan yang berkelanjutan.

