Taikonaut China Terlantar di Luar Angkasa Akibat Kapsul Rusak Serpihan Puing
Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
11 Nov 2025
86 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Keterlambatan kepulangan taikonaut disebabkan oleh kerusakan pada pesawat luar angkasa.
Puing luar angkasa menjadi ancaman serius bagi misi luar angkasa.
CMSA mencari solusi alternatif untuk membawa pulang taikonaut yang terjebak.
Tiga astronaut China yang disebut taikonaut tidak bisa kembali ke Bumi sesuai rencana karena kerusakan pada pesawat luar angkasa mereka, Shenzhou-20. Kerusakan ini diduga terjadi setelah kapsul tersebut tertabrak oleh serpihan kecil puing luar angkasa. Karena itu, kepulangan mereka yang direncanakan pada pekan ini menjadi tertunda.
Ketiga taikonaut yang terdampar di orbit rendah Bumi bernama Chen Dong, Chen Zhonrui, dan Wang Ije. Saat ini, mereka harus menunggu lebih lama di stasiun luar angkasa Tiangdong bersama dengan kru baru yang tiba sebagai pengganti. Lembaga Luar Angkasa China (CMSA) sedang melakukan analisa terhadap risiko dan dampak dari kerusakan ini.
Jika kerusakan dianggap berbahaya untuk keselamatan taikonaut, CMSA harus mencari solusi lain, termasuk kemungkinan mengirim pesawat luar angkasa pengganti. Namun, belum ada kepastian berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk persiapan peluncuran tersebut dan kepulangan para astronaut.
Masalah puing luar angkasa memang sudah menjadi tantangan besar dalam eksplorasi luar angkasa. Serpihan ini berasal dari roket yang sudah habis masa pakai atau satelit yang tidak aktif, serta pecahan tabrakan sebelumnya yang menumpuk di orbit rendah Bumi dan meningkatkan risiko kecelakaan pada pesawat dan kru.
Kejadian ini mengingatkan kita akan peristiwa sebelumnya saat astronaut NASA mengalami keterlambatan kepulangan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) akibat masalah teknis pada pesawat Boeing Starliner. Semakin banyaknya puing luar angkasa harus menjadi perhatian utama untuk memastikan keselamatan semua misi luar angkasa berawak.
Analisis Ahli
Dr. Ir. Dwi Haryanto (Ahli Astronautika ITB)
Kejadian ini menandakan perlunya sistem deteksi dan pelindung anti-puing yang jauh lebih canggih. Selain itu, pengelolaan orbit dan regulasi internasional soal puing luar angkasa harus diperketat untuk menjamin keselamatan misi berawak di masa depan.

