NASA Siap Luncurkan Artemis 2, Meski Staf dan Astronaut Belum Dibayar
Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
03 Nov 2025
62 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
NASA menghadapi tantangan serius akibat penutupan operasional pemerintah yang berdampak pada misi Artemis 2.
Para pegawai dan astronaut NASA menunjukkan komitmen yang tinggi meskipun tidak dibayar.
Dampak penutupan pemerintah dapat memberikan keuntungan bagi pesaing seperti China dalam eksplorasi luar angkasa.
NASA sedang mengerjakan persiapan final untuk misi Artemis 2, penerbangan berawak pertama ke Bulan setelah lebih dari 50 tahun. Roket ini dijadwalkan akan meluncur sekitar Februari 2026, menandai langkah besar dalam eksplorasi antariksa modern.
Sayangnya, penutupan operasional pemerintah Amerika Serikat membuat sejumlah pegawai NASA dan astronaut harus tetap bekerja tanpa menerima gaji. Meski begitu, mereka tetap berkomitmen untuk menyukseskan misi tersebut karena pentingnya keberhasilan penerbangan ini.
Para kontraktor yang membantu persiapan misi masih mendapat bayaran, namun anggaran mereka mulai menipis dan ada kekhawatiran pembayaran akan terhenti jika situasi penutupan terus berlanjut. Hal ini bisa menghambat kesiapan seluruh misi.
Penutupan ini tidak hanya menghancurkan moral dan operasional NASA, tetapi juga membahayakan posisi AS dalam persaingan luar angkasa. China disebut-sebut memiliki peluang lebih besar untuk mencapai Bulan terlebih dahulu jika kondisi ini tidak segera membaik.
Meskipun adanya beberapa hari penyelarasan Bulan dan Bumi yang terbatas untuk peluncuran, NASA berharap misi Artemis 2 tetap dapat dilakukan sesuai jadwal. Namun, ada risiko penundaan jika penutupan pemerintah berlarut.
Analisis Ahli
Kirk Shireman
Penutupan operasional pemerintah dapat berakibat signifikan bagi infrastruktur keseluruhan program luar angkasa dan dapat membahayakan kelangsungan kerja banyak kontraktor skala kecil.

