TLDR
Penggunaan pembelajaran penguatan dalam kontrol satelit dapat meningkatkan efisiensi dan adaptabilitas sistem. Keberhasilan pengujian ini menunjukkan potensi AI untuk misi luar angkasa yang memerlukan keputusan otonom. Proyek LeLaR menetapkan dasar untuk pengembangan kontroler yang lebih canggih dalam teknologi ruang angkasa. Sebuah tim peneliti dari Julius Maximilians Universität Würzburg berhasil mencapai terobosan besar di bidang teknologi luar angkasa dengan menjalankan pengendali sikap satelit berbasis kecerdasan buatan langsung di luar angkasa. Teknologi ini menggunakan Deep Reinforcement Learning (DRL) yang dipelajari melalui simulasi komputer agar satelit mampu menyesuaikan posisinya tanpa bantuan manusia.Pengujian dilakukan dengan satelit nanosatelit bernama InnoCube yang beroperasi di orbit Bumi. AI pengendali tersebut berhasil melakukan manuver dengan target orientasi yang tepat dan konsisten, membuktikan bahwa sistem ini mampu mengatasi tantangan dari teori ke aplikasi nyata, masalah yang dikenal dengan Sim2Real gap.Keberhasilan ini merupakan langkah penting menuju pengembangan sistem kendali satelit yang bisa beradaptasi dan mandiri, tanpa perlu penyetelan manual selama berbulan-bulan. Ini akan sangat berguna untuk misi ruang angkasa jangka panjang di mana komunikasi dengan Bumi sangat lambat atau bahkan tidak memungkinkan.Di samping pengendali AI, InnoCube juga menguji sistem komunikasi internal nirkabel SKITH yang menggantikan kabel-kabel tradisional, sehingga mengurangi massa satelit dan risiko kerusakan. Teknologi ini mendukung visi satelit masa depan yang lebih ringan dan dapat diandalkan.Para peneliti berencana terus mengembangkan teknologi ini agar dapat diterapkan di skenario lebih luas, termasuk misi antariksa jauh. Keberhasilan ini juga menandai awal diterimanya AI secara lebih luas dalam riset dan operasi ruang angkasa yang sangat kompleks dan berisiko tinggi.