Model Ekonomi Sirkular Bakal Ubah Industri Pasir dan Kerikil China Hingga 2050
Sains
Iklim dan Lingkungan
08 Nov 2025
24 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Daur ulang pasir dan kerikil dapat memenuhi hampir setengah dari kebutuhan nasional di China pada tahun 2050.
Model ekonomi sirkular dapat secara signifikan mengurangi permintaan agregat tahunan di China.
Tsinghua University berperan penting dalam penelitian tentang potensi daur ulang agregat di industri konstruksi.
Di China, pasir dan kerikil adalah bahan utama yang digunakan dalam membangun gedung, jalan, dan rel kereta. Namun, pengambilan material ini dari alam sangat besar, menimbulkan masalah lingkungan dan ketersediaan sumber daya yang menipis.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dari Tsinghua University menunjukkan bahwa jika limbah konstruksi dan demolisi didaur ulang dengan baik, bahan ini bisa memenuhi hampir setengah dari kebutuhan China pada tahun 2050. Hal ini akan membantu mengurangi ekstraksi bahan baru secara drastis.
Beberapa provinsi di China bahkan berpotensi mencapai tingkat daur ulang hingga 65 persen, yang menunjukkan bahwa strategi ekonomi sirkular bisa diterapkan secara luas dan efektif. Dengan begitu, kebutuhan agregat akan jauh berkurang dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Agregat sendiri adalah material yang paling banyak diekstraksi di dunia, setara dengan setengah dari semua material yang diambil dari bumi secara global. Oleh karena itu, melakukan daur ulang bisa menjadi langkah besar dalam pelestarian lingkungan secara global.
Studi ini mengharapkan dengan dukungan kebijakan dan teknologi yang tepat, produksi agregat daur ulang akan mampu memenuhi sebagian besar permintaan di masa mendatang, menjadikan industri konstruksi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Analisis Ahli
Zhu Bing
Daur ulang agregat adalah solusi realistis dan penting untuk mengurangi kebutuhan ekstraksi serta dampak lingkungan pada industri konstruksi nasional.

