China Produksi 1 Miliar Ton Serat Tekstil, Tantangan Limbah Besar Menanti
Sains
Iklim dan Lingkungan
15 Agt 2025
39 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Produksi serat tekstil di China sangat besar, mencapai lebih dari satu gigaton.
Tingkat pemulihan limbah tekstil di China masih sangat rendah, hanya 17 persen.
Daur ulang tekstil sering kali melibatkan proses downcycling yang mengurangi kualitas material.
Dalam kurang lebih empat dekade, China telah memproduksi lebih dari satu miliar ton serat tekstil, jumlah yang sangat besar bahkan dua kali lipat dari total massa manusia di bumi. Produksi ini mencerminkan transformasi China dari ekonomi tertutup menjadi industri tekstil global yang dominan.
Penelitian terbaru dari Tsinghua University memetakan alur dan stok serat tekstil di China dari tahun 1978 hingga 2022. Ini menjadi studi pertama yang memberikan gambaran jelas mengenai perkembangan industri tekstil yang sangat pesat dalam kurun waktu tersebut.
Namun, dampak negatif industri ini mulai terlihat dari limbah tekstil yang hampir mencapai 30 persen dari penggunaan. Tingkat pengembalian limbah yang berhasil didaur ulang hanya sekitar 17 persen, jauh di atas rata-rata global yang 12 persen, namun masih sangat rendah secara keseluruhan.
Sebagian besar daur ulang dilakukan dengan metode downcycling, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang kualitas dan nilainya lebih rendah. Hal ini menandakan ada masalah serius dalam pengelolaan dan teknologi daur ulang tekstil di China.
Karena China menguasai lebih dari separuh kapasitas pengolahan tekstil dunia, temuan ini dapat membantu pembuat kebijakan dalam merumuskan kebijakan yang bertujuan mengurangi limbah dan meningkatkan upaya daur ulang yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Analisis Ahli
Prof. Wang Yadong (Ahli Lingkungan Tsinghua University)
Data ini menggarisbawahi urgensi pengembangan sistem daur ulang berteknologi tinggi dan kebijakan kuat yang mendukung ekonomi sirkular di sektor tekstil China.Dr. Maria Chen (Peneliti Lingkungan PBB)
Tingkat daur ulang yang rendah dan praktik downcycling menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya volume limbah, melainkan kualitas pengelolaan limbah yang harus diperbaiki.
