Penelitian Baru: Simpanse Mampu Berpikir Rasional Seperti Manusia
Sains
Neurosains and Psikologi
31 Okt 2025
228 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Simpanse memiliki kemampuan kognitif yang lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Kemampuan untuk merevisi keyakinan berdasarkan bukti baru adalah tanda dari pemikiran rasional yang juga ditemukan pada manusia.
Penelitian ini membuka jalan bagi pemahaman lebih lanjut tentang belajar dan pengambilan keputusan baik pada primata maupun manusia.
Sebuah studi terbaru dari UC Berkeley dan Utrecht University mengungkapkan bahwa simpanse dapat merevisi keyakinan mereka ketika mendapatkan bukti baru yang lebih kuat. Penemuan ini menandai bahwa kemampuan berpikir rasional tidak hanya dimiliki oleh manusia, melainkan juga ada pada simpanse.
Penelitian dilakukan dengan memberikan simpanse dua pilihan kotak, di mana hanya satu berisi makanan. Simpanse awalnya mendapatkan petunjuk untuk memilih salah satu kotak, namun kemudian diberi petunjuk lebih kuat yang menunjukkan kotak lain yang berisi makanan. Banyak simpanse yang mengganti pilihannya setelah mendapat petunjuk kedua.
Tim peneliti, yang dipimpin oleh Emily Sanford, menggunakan model komputasi untuk memastikan bahwa perubahan keputusan simpanse bukan karena mereka hanya mengikuti petunjuk terbaru secara impulsif, tetapi karena proses berpikir dan revisi keyakinan yang rasional.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir rasional ada dalam spektrum antara manusia dan simpanse. Tidak ada perbedaan besar yang mutlak, melainkan kelangsungan dalam kemampuan kognitif tersebut, yang penting untuk perkembangan pemahaman kita tentang otak dan perilaku hewan.
Ke depan, tim akan menggunakan metode serupa untuk menguji balita dan primata lain untuk memetakan kemampuan berpikir rasional dan bagaimana hal itu bisa diaplikasikan dalam pembelajaran anak serta pengembangan kecerdasan buatan. Temuan ini dinilai penting bagi ilmu pendidikan dan teknologi.
Analisis Ahli
Emily Sanford
Kemampuan simpanse merevisi keyakinan berdasarkan bukti yang lebih kuat menunjukkan adanya fleksibilitas kognitif yang sebelumnya hanya diasosiasikan dengan anak-anak usia empat tahun, memperkuat argumen bahwa pemikiran rasional tidak eksklusif bagi manusia.

