ByteDance Kuasai Dunia Lewat Chatbot AI Cici di Tengah Tekanan TikTok AS
Teknologi
Kecerdasan Buatan
20 Okt 2025
50 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Cici merupakan chatbot AI baru dari ByteDance yang sedang mengalami ekspansi global.
ByteDance sedang menghadapi tantangan dengan TikTok di AS, tetapi menemukan kesempatan melalui Cici.
Cici menggunakan teknologi AI barat dan berhasil menarik perhatian pengguna di berbagai negara.
ByteDance, perusahaan teknologi besar asal China, menghadapi perintah dari Amerika Serikat untuk menjual platform TikTok agar terhindar dari pemblokiran. Untuk mengatasi keadaan ini, ByteDance meluncurkan chatbot AI barunya yang bernama Cici sebagai senjata baru untuk tetap menguasai pasar global teknologi.
Cici menunjukkan prestasi mengesankan di berbagai negara, menjadi aplikasi teratas di Google Play Meksiko dan masuk 10 besar di App Store Inggris. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina, Cici juga berhasil masuk peringkat 20 besar aplikasi terpopuler selama tiga bulan berturut-turut.
Salah satu alasan keberhasilan Cici adalah karena kebanyakan pengguna tidak mengetahui bahwa aplikasi tersebut dibuat oleh ByteDance. Promosi Cici dilakukan secara terselubung dengan tidak menyebut nama ByteDance, meski perusahaan tetap menjalankan kampanye iklan besar-besaran, termasuk di negara-negara seperti Meksiko, Inggris, dan Filipina.
Berbeda dengan chatbot AI Doubau yang juga milik ByteDance dan menggunakan teknologi AI buatan sendiri, Cici menggunakan teknologi AI dari barat seperti GPT buatan OpenAI dan Gemini milik Google. Hal ini menunjukkan strategi ByteDance untuk mengadopsi teknologi canggih guna mendukung ekspansi internasional mereka.
Seorang investor yang bernama Dermot McGrath mengatakan bahwa keunggulan ByteDance adalah kemampuannya dalam menciptakan produk dengan tingkat keterlibatan tinggi yang memberikan sensasi dopamin kepada pengguna, yang belum bisa ditandingi oleh Google maupun OpenAI. Ini menjadi faktor kunci keberhasilan ByteDance dalam menguasai pasar AI di dunia.
Analisis Ahli
Dermot McGrath
Perusahaan AI asal China berada di posisi lebih baik dalam menciptakan produk yang mendorong keterlibatan emosional dan dopamin, yang belum dikuasai oleh Google atau OpenAI.

