Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Perang Token Rp 1.40 triliun ($84 Juta) antara Fetch.ai dan Ocean Protocol Guncang Aliansi AI

Finansial
Mata Uang Kripto
cryptocurrency (5mo ago) cryptocurrency (5mo ago)
17 Okt 2025
134 dibaca
2 menit
Perang Token Rp 1.40 triliun ($84 Juta)  antara Fetch.ai dan Ocean Protocol Guncang Aliansi AI

Rangkuman 15 Detik

Konflik antara Fetch.ai dan Ocean Protocol mengancam kolaborasi dalam Aliansi Superintelligence.
Binance mengambil langkah proaktif dengan menghentikan dukungan untuk deposit OCEAN.
Ketidakpastian dalam struktur dan keamanan aset token menciptakan kekhawatiran di kalangan pemegang token.
Sebuah perselisihan besar telah meletus antara CEO Fetch.ai, Humayun Sheikh, dan Ocean Protocol Foundation terkait sekitar 286 juta token Fetch.ai (FET) senilai 84 juta dolar AS. Konflik ini mengancam masa depan Aliansi Artificial Superintelligence (ASI), sebuah kolaborasi ambisius yang menggabungkan tiga proyek AI blockchain utama. Pertikaian bermula ketika Ocean Protocol mengumumkan pengunduran dirinya dari Aliansi ASI dan keluar dari peran-peran pengurus di perusahaan di Singapura. Ocean menyatakan tidak bisa mengungkapkan semua detail konflik karena alasan hukum, namun memberi sinyal adanya masalah yang lebih dalam. Humayun Sheikh menuduh Ocean melakukan pencetakan token yang tidak transparan dan mengonversi sejumlah besar token OCEAN menjadi token FET tanpa pengungkapan yang layak. Token-token tersebut kemudian dipindahkan ke beberapa wallet yang terkait dengan GSR Markets dan ExaGroup, yang kemudian dikaitkan dengan aktivitas di Binance. Sebagai respons, Binance menghentikan dukungan bagi deposit token OCEAN lewat jaringan Ethereum pada akhir Oktober. Keputusan ini diduga berhubungan dengan risiko dari token yang sedang dipertikaikan. Harga token FET dan OCEAN mengalami penurunan signifikan akibat ketidakpastian ini. Proses arbitrase hukum kini tengah berlangsung, dengan Fetch.ai dan Ocean Protocol bertukar klaim dan tuduhan. Perselisihan ini membangkitkan pertanyaan serius tentang tata kelola dan transparansi dalam kolaborasi proyek blockchain AI yang kompleks dan membuka jalan bagi kemungkinan perubahan besar di ekosistem token yang terlibat.

Analisis Ahli

Andreas M. Antonopoulos
Konflik ini adalah contoh klasik bagaimana kurangnya tata kelola terdesentralisasi yang efektif dapat merusak kepercayaan di ekosistem blockchain, menekankan pentingnya desain governance yang matang.
Laura Shin
Kontroversi token seperti ini memperlihatkan risiko besar dalam merger token kripto, khususnya terkait distribusi yang adil dan transparansi transaksi besar yang harus diatasi agar ekosistem AI blockchain bisa berkembang.