Emas Melonjak, Bitcoin Terjungkal: Apakah Strategi ‘Debasement Trade’ Masih Valid?
Finansial
Mata Uang Kripto
16 Okt 2025
147 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Emas kembali diakui sebagai aset yang lebih stabil dan aman dibandingkan Bitcoin dalam konteks ketidakpastian ekonomi.
Koreksi harga Bitcoin menunjukkan bahwa investor mungkin melihatnya lebih terkait dengan aset berisiko lainnya daripada sebagai pelindung inflasi.
Strategi perdagangan debasemen masih relevan, namun ada pertanyaan tentang peran Bitcoin di dalamnya seiring dengan performa emas yang kuat.
Strategi investasi yang disebut "debasement trade" telah menjadi populer di kalangan investor yang membeli aset keras seperti emas dan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat. Namun, peristiwa "Black Friday Crypto Crash" pada 10 Oktober lalu menghapus lebih dari 19 miliar dolar Amerika dari posisi yang menggunakan leverage dan menyebabkan harga Bitcoin terjun bebas, sementara emas justru mencapai rekor tertinggi di atas 4.000 dolar per ons.
Keprihatinan terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, serta kekhawatiran akan independensi Federal Reserve, mendorong investor beralih ke aset keras. Dalam konteks ini, analis JPMorgan menciptakan istilah "debasement trade" untuk menggambarkan tren tersebut. Namun, perbedaan kinerja Bitcoin dan emas yang nyata membuat banyak pihak meragukan apakah Bitcoin masih layak disebut sebagai aset safe haven sejati.
Peter Schiff, seorang skeptis Bitcoin yang berpengalaman, mengkritik Bitcoin yang dianggapnya mengikuti pola aset berisiko dan bukan penyimpan nilai yang aman seperti emas. Ia menyoroti bahwa dunia sedang beralih dari standar dolar kembali ke standar emas. Sebaliknya, para pendukung Bitcoin seperti CEO Tether Paolo Ardoino tetap optimistis bahwa kedua aset itu akan berperan penting sebagai penyimpan nilai jangka panjang dan pelindung risiko mata uang fiat.
Menurut data on-chain, korelasi antara Bitcoin dan emas sedang meningkat, mengindikasikan adanya investor yang tetap menempatkan kedua aset tersebut secara bersamaan dalam portofolio untuk mendapatkan perlindungan dari inflasi. Akan tetapi, sejumlah analis mengingatkan bahwa tekanan pada pasar dan risiko likuiditas dari perusahaan yang memiliki Bitcoin sebagai aset cadangan dapat menyebabkan penurunan harga lebih lanjut.
Kesimpulannya, meskipun ada narasi dan harapan besar terhadap Bitcoin sebagai emas digital, emas tetap memiliki keunggulan historis dan kepercayaan institusional yang kuat. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana investor menilai risiko dan peluang dalam aset digital versus aset tradisional ini, terutama di tengah ketidakpastian makroekonomi saat ini.
Analisis Ahli
Peter Schiff
Bitcoin bukan aset safe haven karena mengikuti perilaku aset berisiko, sedangkan emas tetap menjadi pilihan utama dalam sistem moneter yang beralih dari standar dolar ke emas.Paolo Ardoino
Bitcoin dan emas tetap relevan dan akan bertahan lebih lama daripada mata uang manapun sebagai penyimpan nilai jangka panjang.Ki Young Ju
Korelasi yang meningkat antara Bitcoin dan emas menunjukkan bahwa narasi Bitcoin sebagai 'emas digital' dan lindung nilai inflasi masih hidup.