Indonesia Setujui Anggaran Rp149 Triliun untuk Beli Jet Tempur Chengdu J-10
Finansial
Kebijakan Fiskal
16 Okt 2025
262 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Indonesia telah menyetujui anggaran sebesar US$9 miliar untuk membeli jet tempur Chengdu J-10.
Chengdu J-10 merupakan jet tempur canggih yang dirancang untuk superioritas udara dan misi dalam segala kondisi cuaca.
Mesin yang digunakan pada Chengdu J-10 adalah AL-31FN, yang menawarkan kinerja tinggi meskipun ada tantangan dalam pengembangan mesin domestik.
Indonesia resmi menyetujui pembelian jet tempur Chengdu J-10 produksi China dengan nilai anggaran mencapai Rp 150.30 triliun (US$9 miliar) atau sekitar Rp149 triliun. Keputusan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat pertahanan udara demi menjaga kedaulatan negara.
Jet tempur Chengdu J-10 dikenal dengan desain delta-canard yang aerodinamis dan ringan, memungkinkan pesawat memiliki kontrol dan daya angkat yang lebih baik. Pesawat ini awalnya dirancang untuk dominasi udara dan kini mampu beroperasi dalam berbagai kondisi cuaca dan waktu.
Mesin jet ini menggunakan turbofan Lyulka-Saturn AL-31FN buatan Rusia dengan tenaga dorong yang cukup tinggi. Ada juga rencana penggunaan mesin domestik China, WS-10A, namun pengembangannya belum selesai sehingga belum diintegrasikan secara penuh.
Dari segi persenjataan, J-10 dilengkapi meriam laras ganda 23mm dan dapat membawa berbagai jenis rudal udara-ke-udara, bom berpemandu laser, serta bom luncur. Totalnya, ada 11 stasiun penyimpanan senjata yang dipasang pada pesawat ini.
Indonesia akan menjadi negara ketiga setelah China dan Pakistan yang mengoperasikan Chengdu J-10. Pembelian ini diharapkan menambah kekuatan militer udara Indonesia sekaligus membuka peluang kerja sama teknologi militer dengan China secara lebih intensif.
Analisis Ahli
Dr. Budi Santoso (Analis Pertahanan)
Langkah pengadaan jet tempur Chengdu J-10 merupakan strategi cerdas untuk memperluas kemampuan militer Indonesia dengan alutsista yang telah teruji. Namun, Indonesia harus mempersiapkan aspek logistik dan teknologi pendukung agar pengoperasian tidak terhambat masalah teknis.

