Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Apakah Waktunya Berani Investasi Kembali di Saham DoubleVerify Holdings?

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (5mo ago) investment-and-capital-markets (5mo ago)
16 Okt 2025
32 dibaca
2 menit
Apakah Waktunya Berani Investasi Kembali di Saham DoubleVerify Holdings?

Rangkuman 15 Detik

DoubleVerify Holdings dianggap undervalued berdasarkan analisis DCF, dengan diskon 78.4% dari nilai intrinsiknya.
Rasio PE perusahaan menunjukkan bahwa sahamnya mungkin terlalu mahal dibandingkan dengan ekspektasi fundamentalnya.
Investasi yang cerdas memerlukan pemahaman mendalam tentang naratif dan proyeksi masa depan perusahaan.
DoubleVerify Holdings menghadapi penurunan harga saham yang signifikan selama beberapa waktu terakhir, dengan penurunan hingga 60,9% dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menimbulkan keraguan di kalangan investor apakah saham ini layak untuk ditambah atau sebaiknya ditahan saja. Penurunan harga ini juga dipengaruhi oleh perubahan besar dalam industri periklanan digital yang kini menghadapi tantangan dari standar privasi baru dan perubahan anggaran iklan. Salah satu metode valuasi utama yang digunakan untuk menilai saham DoubleVerify adalah Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini menghitung nilai intrinsik perusahaan berdasarkan perkiraan pendapatan kas di masa depan. Menariknya, DCF menunjukkan bahwa saham DoubleVerify undervalued hingga 78,4%, dengan nilai intrinsik Rp 85.25 juta ($51,05) per saham, jauh lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini Rp 18.40 juta ($11,02) . Namun, metode valuasi lain yaitu price-to-earnings (PE) ratio memberikan sinyal berbeda. PE DoubleVerify saat ini sebesar 34,2x, lebih tinggi dari rasio yang dianggap wajar oleh para analis, yaitu sekitar 22,8x. Artinya, dari segi PE, saham ini mungkin dihargai terlalu tinggi, karena pasar merasa ada risiko dan ketidakpastian yang belum terpecahkan dalam profitabilitas perusahaan. Ada pendekatan terbaru yang juga diperkenalkan untuk menilai saham, yaitu melalui Narrative atau narasi investasi. Dengan Narrative, investor dapat memasukkan asumsi-asumsi mereka sendiri tentang pertumbuhan pendapatan, margin keuntungan, serta risiko bisnis yang dihadapi DoubleVerify. Narasi ini fleksibel dan bisa diperbaharui sesuai perkembangan terbaru, sehingga memberikan gambaran valuasi yang lebih personal dan dinamis. Narasi optimis memproyeksikan harga saham DoubleVerify bisa naik hingga Rp 45.09 juta ($27,00) dengan asumsi pertumbuhan kuat di segmen Connected TV dan ekspansi internasional. Sementara pandangan konservatif menawarkan nilai wajar Rp 21.71 juta ($13,00) , memperhatikan risiko dari ketergantungan platform dan regulasi privasi yang ketat. Oleh karena itu, keputusan investasi harus mempertimbangkan berbagai perspektif ini secara hati-hati.

Analisis Ahli

Aswath Damodaran
DCF valuation yang menunjukkan saham undervalued penting, namun risiko bisnis dan ketidakpastian pasar digital harus diperhitungkan dalam estimasi pertumbuhan jangka panjang.
Mary Meeker
Perubahan besar dalam ruang digital dan iklan online mengharuskan perusahaan seperti DoubleVerify untuk cepat beradaptasi, dan ini akan tercermin dalam volatilitas saham selama masa transisi.