TLDR
Model matematis baru dapat meningkatkan penilaian situs penyimpanan limbah nuklir dan karbon dioksida. Pendekatan ini memungkinkan optimasi struktur mikroskopis dalam produksi beton, mengurangi emisi karbon dioksida. Penelitian ini memiliki aplikasi luas dalam memahami sistem kompleks lainnya, termasuk pengelolaan air tanah dan energi geotermal. Para peneliti di Stanford University telah mengembangkan sebuah model matematika inovatif yang dapat membantu mengevaluasi situs penyimpanan bawah tanah untuk limbah nuklir dan karbon dioksida. Model ini mampu memahami struktur mikroskopis material geologis yang kompleks dengan menggunakan pendekatan statistik yang disebut model Poisson.Dengan analogi permainan Battleship, model ini bekerja dengan mengidentifikasi komponen pada satu titik acak dalam material, kemudian memprediksi keberadaan komponen lain sehingga membangun peta rinci struktur mikroskopis material tersebut. Hal ini penting untuk memprediksi bagaimana zat akan berperilaku di batuan berpori dan tanah dalam jangka panjang.Model ini juga memiliki berbagai aplikasi di bidang lain, seperti dalam produksi beton. Dengan mengoptimalkan distribusi kantong udara dalam beton dan mengisinya dengan bahan tambahan seperti fly ash atau biochar, model ini dapat membantu mengurangi penggunaan semen, yang berdampak positif pada pengurangan emisi karbon dioksida dan meningkatkan kekuatan beton.Proses matematis dalam penelitian ini melibatkan perhitungan kompleks dengan 128 istilah untuk memprediksi hanya tiga titik, yang membuat penggunaan simulasi komputer sangat penting. Keberhasilan ini memungkinkan kontrol sifat makroskopik material berdasarkan pengaturan mikrostruktur yang sangat detail.Selain itu, kemajuan lain dalam pengelolaan limbah nuklir juga sedang berjalan, seperti teknologi WATSS dari Moltex Energy Canada yang mengubah limbah nuklir menjadi sumber energi, serta pembangunan fasilitas penyimpanan akhir di Swedia yang dapat menyimpan limbah selama 100.000 tahun dengan aman.