Tes Darah Baru dengan Akurasi 96% untuk Diagnosis Sindrom Kelelahan Kronis
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
09 Okt 2025
253 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Tes darah baru menawarkan harapan untuk diagnosis akurat Sindrom Kelelahan Kronis.
Metode epigenetik yang digunakan dapat membantu mengidentifikasi pola genetik yang terkait dengan penyakit.
Penemuan ini dapat memfasilitasi pengembangan pengobatan yang lebih efektif untuk pasien ME/CFS.
Sindrom Kelelahan Kronis (ME/CFS) adalah penyakit yang menyebabkan kelelahan ekstrem yang tidak membaik meskipun beristirahat. Selama ini, pasien sering kesulitan mendapatkan diagnosis yang tepat karena tidak ada tes yang definitif.
Peneliti dari University of East Anglia dan Oxford BioDynamics berhasil mengembangkan tes darah dengan teknologi EpiSwitch® yang menganalisa bagaimana DNA terlipat dalam sel. Pola lipatan DNA ini menghasilkan kode tersembunyi yang membantu mendeteksi penyakit ini.
Tes ini berhasil membedakan pasien ME/CFS dari orang sehat dengan akurasi sangat tinggi, yakni 96%. Melalui tes ini, dokter dapat memastikan diagnosis dengan cepat serta menghindari kesalahan diagnosis yang kerap terjadi.
Selain potensinya untuk ME/CFS, teknologi yang sama juga dipercaya dapat digunakan untuk mengembangkan tes serupa bagi long Covid, yang memiliki gejala mirip dengan ME/CFS. Ini membuka peluang besar untuk diagnosis dan perawatan penyakit lain yang rumit.
Kolaborasi ini mewakili lompatan penting dalam dunia medis yang tidak hanya mempermudah diagnosis tetapi juga dapat memandu pengembangan terapi yang lebih efektif melalui pemahaman proses biologis di balik penyakit.
Analisis Ahli
Prof Dmitry Pshezhetskiy
Tes darah sederhana ini memungkinkan diagnosis ME/CFS yang lebih cepat dan andal, membuka jalan untuk terapi yang lebih tepat sasaran.Alexandre Akoulitchev
Pendekatan menggunakan penanda epigenetik EpiSwitch adalah kunci untuk mencapai akurasi tinggi dalam mengidentifikasi penyakit kompleks seperti ME/CFS.

