AI summary
Tes darah Elecsys pTau181 telah disetujui oleh FDA untuk membantu diagnosis Alzheimer. Tes ini memiliki tingkat akurasi hampir 98% dalam menyingkirkan Alzheimer pada individu dengan penurunan kognitif. Dua tes darah berbeda untuk Alzheimer, yaitu pTau181 dan Lumipulse, memiliki pendekatan yang berbeda dalam diagnosis. Para ilmuwan telah mengembangkan tes darah baru bernama Elecsys pTau181 yang dapat membantu menyingkirkan Alzheimer dengan akurasi hampir 98% pada orang yang mengalami gangguan kognitif. Tes ini mengukur kadar protein tau yang telah terfosforilasi, yang merupakan ciri khas dari kerusakan otak akibat penyakit Alzheimer.Tes darah ini dikembangkan oleh dua perusahaan farmasi besar, Roche dan Eli Lilly, dan baru-baru ini disetujui oleh US Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan di fasilitas kesehatan primer. Artinya, tes ini bisa digunakan oleh dokter umum untuk membantu menentukan apakah penurunan kemampuan kognitif disebabkan oleh Alzheimer.Selain Elecsys, ada juga tes darah lain bernama Lumipulse yang sudah disetujui sebelumnya dan mengukur rasio protein pTau217 dan amyloid-beta. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, dengan Lumipulse mampu menunjukkan hasil positif dan negatif, sedangkan Elecsys terutama berfungsi untuk menyingkirkan kemungkinan Alzheimer.Meskipun hasil tes darah menunjukkan akurasi tinggi, ada tantangan terkait 'zona abu-abu' di mana hasil tes tidak memberikan jawaban pasti. Dalam kasus seperti ini, diperlukan tes lanjutan menggunakan metode yang lebih mendalam, seperti pemeriksaan cairan otak atau pencitraan otak.Dengan adanya tes darah ini, proses diagnosis Alzheimer di masa depan diharapkan menjadi lebih cepat, murah, dan dapat diakses secara luas. Namun, dokter tetap harus waspada dan melakukan pemeriksaan lanjutan bila hasil tes darah kurang jelas agar diagnosis lebih akurat.
Tes darah ini merupakan terobosan penting untuk mempermudah diagnosis Alzheimer dan mengurangi beban pemeriksaan invasif, tetapi ketergantungan pada nilai prediksi negatif saja bisa membatasi kemampuan skrining awal secara menyeluruh. Kedepannya, integrasi beberapa biomarker dan diagnosa klinis tetap diperlukan untuk mendukung keakuratan dan pengobatan tepat.