China Manfaatkan Kebijakan Visa AS yang Mahal dengan Luncurkan Visa K Baru
Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
30 Sep 2025
295 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Kebijakan visa H-1B AS dianggap memberatkan bagi perusahaan dan pekerja asing.
China meluncurkan visa K untuk menarik talenta di bidang teknologi dan STEM.
Perekrutan talenta asing menjadi strategi penting bagi China untuk bersaing di pasar teknologi global.
Kebijakan baru Amerika Serikat yang menaikkan biaya visa kerja H-1B hingga Rp 1.67 juta (US$100.000) per tahun membuat perusahaan dan pekerja asing menghadapi kesulitan untuk bekerja di AS. Hal ini membuka peluang bagi negara lain, khususnya China, untuk menarik talenta teknologi dari seluruh dunia.
China meluncurkan visa K yang ditujukan khusus untuk lulusan muda asing di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Visa ini berbeda karena tidak membutuhkan tawaran kerja atau sponsor perusahaan dan tidak menggunakan sistem undian seperti visa kerja di AS.
Visa K memungkinkan pekerja asing tinggal dan bekerja di China lebih mudah, dengan persyaratan umum seperti batas usia, latar belakang pendidikan, dan pengalaman kerja. Namun, detail seperti insentif finansial dan status tinggal permanen belum jelas.
Walaupun visa ini menarik, ada tantangan besar seperti kendala bahasa Mandarin yang digunakan sebagian besar perusahaan teknologi di China. Ketegangan politik antara India dan China juga dapat mengurangi pelamar dari India, yang sebelumnya adalah penerima terbesar visa kerja AS.
Meski peluang perubahan besar dalam kebijakan imigrasi China kecil, kehadiran visa K menandakan upaya serius Beijing memperkuat posisi dalam persaingan teknologi global. Jika berhasil menarik talenta global, posisi teknologi China akan semakin kuat dan menyaingi Amerika Serikat.
Analisis Ahli
Michael Feller
Kebijakan H-1B AS merugikan negara sendiri dan membuka peluang besar bagi China untuk menarik talenta teknologi dunia, memperkuat dominasi teknologi Beijing secara global.
