AI summary
Proyek Angry Tortoise bertujuan untuk menciptakan sistem hipersonik yang lebih terjangkau dan efisien. Kemitraan dengan perusahaan komersial dapat mempercepat inovasi dalam teknologi militer. Pengembangan mesin roket dengan bahan bakar yang lebih aman dan tahan lama meningkatkan kesiapan taktis. Amerika Serikat kembali memperkuat pengembangan misil hipersonik dengan proyek baru bernama Angry Tortoise, yang fokus pada solusi biaya rendah dan kesiapan tempur yang cepat. Program ini menjadi jawaban atas perlombaan teknologi hipersonik yang semakin ketat di dunia, terutama karena kemajuan rival seperti Rusia dan China.Inti dari proyek ini adalah mesin roket Draper yang menggunakan campuran hidrogen peroksida dan kerosen, bahan bakar yang lebih aman dan bisa disimpan lama tanpa perlu perawatan khusus. Mesin ini dirancang dengan teknologi manufaktur aditif yang membuat produksinya jauh lebih murah dan cepat dibandingkan mesin roket hipersonik konvensional.Untuk menekan biaya, tim pengembang menggabungkan komponen dari roket target ekonomis ET-2 dengan mesin Draper pada bagian belakang noda, sehingga performa bisa ditingkatkan tanpa mengorbankan anggaran. Proyek ini juga merupakan bagian dari kerja sama antara Pentagon dan perusahaan komersial untuk mempercepat inovasi teknologi militer.Uji coba pertama Angry Tortoise akan dilakukan pada Desember di White Sands Missile Range, dengan target mencapai kecepatan Mach 2. Setelah itu, dikembangkan versi yang mampu mencapai Mach 4 hingga Mach 5 untuk memenuhi standar hipersonik sejati, dengan harapan dapat digunakan sebagai senjata operasional di masa depan.Meskipun masih berupa demonstrasi teknologi, Angry Tortoise menjadi proyek strategis yang dapat membuka jalan bagi produksi massal misil hipersonik dengan biaya terjangkau. Kesuksesan proyek ini sangat penting agar Amerika Serikat tidak kehilangan keunggulan dalam persaingan teknologi militer global.
Penggunaan bahan bakar yang lebih aman dan mesin yang banyak menggunakan manufaktur aditif jelas merupakan langkah revolusioner untuk mengendalikan biaya produksi misil hipersonik. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada hasil uji terbang dan kemampuan mereka untuk meningkatkan kecepatan hingga Mach 5 secara konsisten dalam waktu dekat.