Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Rahasia Satelit Bertahan di Orbit dan Tantangan Satelit Indonesia di LEO

Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
astronomy-and-space-exploration (6mo ago) astronomy-and-space-exploration (6mo ago)
28 Sep 2025
100 dibaca
2 menit
Rahasia Satelit Bertahan di Orbit dan Tantangan Satelit Indonesia di LEO

Rangkuman 15 Detik

Satelit harus bergerak dengan kecepatan yang sesuai dengan ketinggian orbitnya.
Terdapat berbagai jenis orbit yang digunakan untuk berbagai misi satelit, seperti LEO untuk penginderaan jauh.
Keterbatasan waktu kontak dengan stasiun bumi pada satelit LEO dapat diatasi dengan meningkatkan jumlah stasiun bumi.
Satelit sekarang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam komunikasi dan pemantauan lingkungan. Namun, banyak orang belum tahu bagaimana satelit bisa tetap mengorbit tanpa jatuh ke bumi atau meluncur ke luar angkasa. Rahasianya terletak pada kecepatan satelit yang harus pas dengan ketinggian orbitnya agar gaya gravitasi bumi seimbang dengan gaya sentrifugal dari gerakan satelit itu sendiri. Semakin rendah posisi satelit di orbit, semakin besar gaya gravitasi yang bekerja sehingga satelit harus bergerak lebih cepat agar tetap di orbit. Misalnya, satelit yang berada di orbit rendah sekitar 600 km dari bumi harus bergerak dengan kecepatan sekitar 7,56 km per detik. Sedangkan satelit di orbit geostasioner yang jauh dari bumi, yaitu 35.786 km, cukup bergerak dengan kecepatan 3,075 km per detik. Pergerakan satelit di luar angkasa mengikuti hukum Kepler dan hukum gravitasi Newton yang menjelaskan hubungan antara gaya gravitasi, massa bumi dan satelit, serta kecepatan yang dibutuhkan untuk menjaga satelit tetap terbang di orbit. Namun, orbit satelit tidak selalu stabil karena pengaruh atmosfer tipis dan bentuk bumi yang tidak bulat sempurna bisa menyebabkan lintasan satelit berubah secara perlahan. Ada beberapa jenis orbit satelit yang digunakan sesuai dengan tujuan misi tertentu. Orbit rendah (LEO) cocok untuk penginderaan jauh dan satelit Indonesia saat ini beroperasi di orbit ini. Orbit menengah (MEO) digunakan untuk sistem navigasi seperti GPS, dan orbit geostasioner (GEO) dipakai untuk komunikasi dan siaran langsung. Ada juga orbit sinkron matahari (SSO) yang cocok untuk penginderaan dengan pencahayaan yang stabil. Satelit di orbit rendah memiliki tantangan yaitu waktu singkat kontak dengan stasiun bumi, hanya 10-15 menit setiap kali melintas. Indonesia memiliki empat stasiun bumi di Tabing, Parepare, Biak, dan Rancabungur untuk mengontrol satelit dan mengoptimalkan pengunduhan data dan perintah yang dikirim. Dengan menambah jumlah stasiun bumi, waktu kontak ini bisa diperpanjang sehingga data yang diterima akan lebih banyak dan lebih cepat.

Analisis Ahli

Satriya Utama
Kecepatan orbit harus disesuaikan dengan ketinggian untuk menjaga kestabilan satelit di luar angkasa serta memaksimalkan fungsi dan efisiensi misi satelit Indonesia.