AI summary
China berkomitmen untuk mengurangi emisi dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Sikap berbeda antara pemimpin AS dan China mencerminkan perbedaan pendekatan terhadap perubahan iklim. Infrastruktur yang tahan iklim menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan. Dalam Sidang Umum PBB yang berlangsung di New York, perbedaan pandangan antara China dan Amerika Serikat soal perubahan iklim menjadi sorotan utama, dengan Presiden Trump meremehkan isu ini sementara Presiden Xi Jinping mengumumkan rencana ambisius untuk penanganan perubahan iklim di China.China menetapkan target pengurangan emisi karbon antara 7 hingga 10 persen dari level puncak pada tahun 2035 dan berencana meningkatkan proporsi energi non-fosil dalam campuran energinya menjadi lebih dari 30 persen, khususnya dengan fokus pada energi angin dan surya.Selain itu, China sedang melakukan transformasi besar-besaran dalam infrastruktur dan tata ruang kota agar lebih tahan terhadap risiko yang meningkat akibat perubahan iklim, seperti banjir, gelombang panas, dan cuaca ekstrem lainnya.Upaya transformasi ini juga didukung oleh data ilmiah yang menunjukkan pentingnya kesiapan dan ketahanan dalam menghadapi masa depan yang lebih panas dan lebih tidak menentu, serta menjadi tren global yang perlu diikuti oleh negara-negara lainnya.Dengan komitmen dan aksi nyata dari China, diharapkan dunia dapat melihat contoh bagaimana pembangunan ekonomi dapat sejajar dengan perlindungan lingkungan, meskipun masih ada tantangan dari sikap negara-negara lain yang belum memberikan dukungan penuh terhadap isu ini.
Langkah China ini menunjukkan keseriusan yang jauh melebihi sekedar retorika, mengingat besarnya dampak potensi perubahan iklim di negara dengan populasi dan ekonomi terbesar di dunia. Sementara sikap AS bisa menghambat kemajuan global, keberhasilan China dalam transformasi ini dapat menjadi katalis penting bagi perubahan kebijakan internasional secara bertahap.