AI summary
Inovasi dalam teknologi makanan dapat meningkatkan kualitas tekstur makanan 3D. Penggunaan laser dalam memasak menawarkan kontrol yang lebih tepat dibandingkan metode tradisional. Makanan 3D dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan preferensi individu. Seiring berkembangnya teknologi cetak 3D, para peneliti menghadapi tantangan besar dalam membuat tekstur makanan yang nyata dan enak. Biasanya, makanan cetak 3D memiliki tekstur yang seperti pasta karena bahan yang digunakan berupa bubuk atau gel. Tekstur adalah faktor penting yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap makanan baru.Dr. Jonathan David Blutinger dan tim menggunakan teknologi laser multi-wavelength untuk memasak makanan cetak 3D dengan cara yang sangat presisi. Teknik ini menggunakan beberapa panjang gelombang laser agar dapat mengontrol tekstur makanan di setiap lapisan cetakan sehingga hasilnya dapat meniru tekstur makanan yang dimasak secara tradisional.Mereka menguji teknologi ini dengan menggunakan tiga jenis laser pada adonan Graham cracker, dan hasilnya menunjukkan bahwa makanan yang dimasak dengan laser memiliki elastisitas dan tekstur yang lebih baik dibanding dengan yang dipanggang menggunakan oven konvensional. Ini berarti rasa dan sensasi makan akan lebih diterima oleh konsumen.Sebagai demonstrasi, tim berhasil mencetak dan memasak makanan lengkap yang terdiri dari 14 bahan dan tiga menu berbeda. Ini merupakan pencapaian tertinggi sejauh ini dalam bidang makanan cetak 3D, dan membuka banyak kemungkinan untuk menghasilkan makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi individu.Teknologi ini tidak hanya akan membantu dalam pembuatan makanan yang lebih enak dan bergizi, tapi juga memungkinkan pengembangan menu plant-based dan diet medis dengan lebih baik. Hal ini bisa mengurangi ketergantungan pada makanan massal dan memberikan pengalaman memasak yang lebih personal menggunakan perangkat lunak.
Pendekatan penggunaan laser multi-wavelength dalam memasak makanan cetak 3D merupakan lompatan besar dalam mengatasi masalah tekstur yang sejak lama menjadi hambatan. Kendati demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai aspek keamanan dan skala produksi untuk memastikan teknologi ini dapat diadopsi secara luas dalam industri makanan.