Pemotongan Dana Riset Vaksin mRNA AS: Ancaman dan Harapan di Tengah Krisis
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
24 Sep 2025
44 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pemotongan dana untuk penelitian vaksin mRNA oleh HHS menimbulkan kekhawatiran tentang komitmen pemerintah AS terhadap teknologi ini.
Meskipun ada pemotongan, Departemen Pertahanan tetap mendukung penelitian vaksin untuk melindungi tentara dari patogen berbahaya.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakterhubungan dalam struktur biodefense nasional yang berpotensi merugikan kesiapan menghadapi ancaman infeksi di masa depan.
Baru-baru ini, pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk menghentikan hampir setengah miliar dolar dana dari kontrak riset vaksin mRNA. Keputusan ini mengejutkan banyak ilmuwan karena teknologi ini sangat penting dalam melawan pandemi Covid-19 dan penyakit menular masa depan.
Meski begitu, sebagian riset vaksin mRNA masih tetap berjalan, terutama berkat dukungan dari militer AS. Mereka memfokuskan dana untuk vaksin melawan penyakit berbahaya seperti Crimean–Congo haemorrhagic fever yang memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat mempengaruhi tentara yang bertugas di luar negeri.
Perusahaan HDT Bio yang mengembangkan vaksin ini sempat terhenti karena pemotongan dana dari HHS. Namun, militer AS kembali memfasilitasi agar program uji klinis mereka bisa dilanjutkan hingga fase pertama, menunjukkan komitmen lain dalam menjaga kesiapan melawan ancaman biologis.
Selain HDT Bio, perusahaan besar seperti AstraZeneca juga masih melanjutkan uji coba vaksin mRNA untuk flu burung dengan dukungan lembaga militer dan BARDA, walaupun ada ketidakjelasan mengenai sejauh mana dana pemerintah terlibat secara keseluruhan.
Pemerintah melalui HHS menyatakan bahwa mereka fokus pada solusi berbasis bukti dan etis. Namun, para ahli medis memperingatkan bahwa pemutusan dana ini bisa melemahkan kesiapan nasional dan global untuk menghadapi pandemi berikutnya yang mungkin muncul.
Analisis Ahli
Amesh Adalja
Pembelokan dukungan dari HHS sangat membahayakan struktur pertahanan biologis negara dan bisa melemahkan respons nasional dan global terhadap ancaman penyakit menular.
