Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Metformin Ternyata Bekerja di Otak, Bukan Hanya Hati dan Usus

Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
18 Sep 2025
144 dibaca
2 menit
Metformin Ternyata Bekerja di Otak, Bukan Hanya Hati dan Usus

Rangkuman 15 Detik

Metformin tidak hanya bekerja di hati dan usus, tetapi juga memiliki efek langsung di otak.
Penelitian menunjukkan bahwa metformin berfungsi melalui interaksi dengan protein RAP 1 di hipotalamus ventromedial.
Temuan ini dapat mengubah cara kita memahami pengobatan diabetes tipe 2 dan penuaan otak.
Metformin sudah digunakan selama puluhan tahun untuk mengobati diabetes tipe 2, tetapi selama ini efeknya dianggap hanya bekerja di hati dan usus. Sebuah penelitian terbaru dari Baylor College of Medicine mengungkap bahwa metformin juga memiliki peran penting di otak, khususnya di bagian hipotalamus ventromedial atau VMH. Para peneliti melakukan uji coba dengan tikus yang mengalami diabetes tipe 2. Mereka menemukan bahwa efektifitas metformin dalam mengatasi diabetes bergantung pada protein khusus bernama RAP 1 yang terdapat di otak. Jika tikus tidak memiliki RAP 1, metformin tidak menunjukkan efek yang diharapkan. Selain RAP 1, neuron SF1 di VMH juga terlibat langsung dalam respon tubuh saat menggunakan metformin. Neuron-neuron ini diaktifkan ketika metformin diberikan langsung ke otak, menunjukkan bahwa otak berperan aktif dalam pengaturan metabolisme glukosa. Penemuan ini mengubah pandangan selama ini bahwa metformin hanya bekerja pada hati dan usus. Ternyata otak juga merupakan target penting dan memicu mekanisme kerja unik yang berbeda dari organ lain. Studi lain bahkan menyinggung bahwa obat serupa bisa memperlambat proses penuaan otak dan meningkatkan harapan hidup. Dengan hasil tersebut, peneliti berharap temuan ini dapat membuka peluang untuk mengembangkan terapi diabetes yang lebih efektif dengan menargetkan otak. Ini juga memberi harapan bahwa kerja metformin akan dipahami lebih menyeluruh, memperbaiki metode pengobatan dan kualitas hidup penderita diabetes tipe 2.

Analisis Ahli

Makoto Fukuda
Penelitian ini membuka perspektif baru bahwa pengobatan diabetes harus mempertimbangkan peran otak dalam mengontrol metabolisme, terutama melalui protein RAP 1 dan neuron SF1 di VMH.