Bahaya Serangan Siber di Perbankan Digital dan Solusi Berbagi Data
Finansial
Perbankan dan Layanan Keuangan
15 Sep 2025
281 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Industri perbankan perlu meningkatkan keamanan siber di tengah digitalisasi.
Kolaborasi antara institusi keuangan sangat penting untuk mencegah kejahatan siber.
Deepfake AI menjadi alat yang berpotensi disalahgunakan oleh pelaku kejahatan dalam serangan siber.
Industri perbankan di Indonesia kini semakin banyak layanan yang berbasis digital, sehingga nasabah bisa melakukan transaksi tanpa perlu datang ke kantor cabang. Contohnya pembukaan rekening dan pengajuan kredit bisa dilakukan secara online melalui aplikasi atau video call.
Namun, kemudahan ini juga menjadi jalan bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksi mereka, apalagi teknologi seperti deepfake AI semakin dipakai untuk mencoba membobol sistem perbankan dan membuka rekening palsu.
Pelaku kejahatan siber biasanya bekerja dalam sindikat yang saling bertukar informasi agar serangan yang mereka lakukan lebih efektif dan menghindari terdeteksi oleh bank yang menjadi target.
Masalah utama yang disoroti adalah kurangnya keberanian atau mekanisme berbagi data antar bank, padahal informasi seperti device ID ponsel yang digunakan bisa menjadi kunci untuk mendeteksi pola serangan dan mencegah serangan berulang.
Dengan meningkatkan kerja sama dan berbagi data antar institusi perbankan, diharapkan dapat memperkuat keamanan digital sehingga pelaku kejahatan siber lebih sulit untuk menjalankan aksinya dan melindungi nasabah dari penipuan.
Analisis Ahli
Marshall Pribadi
Serangan siber semakin terorganisir dan bank harus berbagi informasi device ID untuk deteksi dini dan pencegahan kejahatan yang berulang.Cybersecurity Analyst
Penggunaan deepfake AI dalam kejahatan siber menuntut pengembangan alat deteksi yang lebih canggih dan kolaborasi sektor keuangan untuk proteksi maksimal.

