Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Indonesia Masuk 10 Besar Target Anomali Siber, OJK Ingatkan Perbankan Waspada

Teknologi
Keamanan Siber
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
15 Sep 2025
190 dibaca
1 menit
Indonesia Masuk 10 Besar Target Anomali Siber, OJK Ingatkan Perbankan Waspada

Rangkuman 15 Detik

Anomali siber menjadi masalah serius yang dihadapi oleh Indonesia, terutama di sektor keuangan.
Penggunaan internet yang tinggi di Indonesia menambah tantangan dalam melindungi data dan informasi.
OJK perlu melakukan akselerasi inovasi digital sekaligus memperkuat tata kelola dan ketahanan siber.
Indonesia kini menjadi salah satu dari sepuluh negara yang paling sering menjadi target serangan anomali siber, setara dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman. Hal ini menempatkan sektor keuangan Indonesia dalam risiko tinggi yang perlu penanganan serius. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti bahwa serangan siber tidak hanya masalah teknologi, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas ekonomi secara luas. Bahaya seperti kebocoran data dan peredaran informasi di darknet semakin nyata di era digital ini. Sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sekitar 75%, sudah menggunakan internet, dan setengahnya adalah pengguna aktif dengan durasi rata-rata penggunaan hingga 7 jam setiap hari. Hal ini didorong oleh peningkatan transaksi lewat e-commerce dan pembayaran digital. OJK menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi di bidang perbankan dan penguatan tata kelola teknologi informasi serta ketahanan siber. Penguatan dua aspek ini sangat penting untuk menghadapi tantangan besar di era digitalisasi keuangan saat ini. Langkah strategis yang dilakukan OJK termasuk akselerasi inovasi layanan digital sekaligus penguatan pengelolaan risiko siber. Dengan begitu, sektor keuangan Indonesia dapat tetap aman, andal, dan terus berkembang menghadapi era digital.

Analisis Ahli

Indah Tiramadhini
Serangan siber bukan hanya masalah teknologi, tapi juga dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global, sehingga penguatan tata kelola dan inovasi harus berjalan seimbang.