HHS AS Pangkas Riset Vaksin mRNA Tapi Terus Dukung Terapi Kanker dan Genetik
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
14 Agt 2025
261 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
HHS membatalkan banyak kontrak penelitian mRNA, meskipun beberapa proyek yang tidak terkait juga terkena dampak.
Pandangan skeptis terhadap vaksin mRNA dari Robert F. Kennedy Jr. mempengaruhi keputusan HHS.
Meskipun ada pembatalan, ada minat berkelanjutan dalam penelitian mRNA untuk pengobatan penyakit seperti kanker dan gangguan genetik.
Baru-baru ini, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS mengumumkan pengurangan besar-besaran dalam penelitian vaksin mRNA dengan membatalkan kontrak dan investasi hampir 500 juta dolar. Langkah ini merupakan bagian dari penarikan terkoordinasi untuk menghentikan riset vaksin mRNA terhadap virus pernapasan. Namun, ada proyek lain yang tidak berkaitan dengan vaksin atau teknologi mRNA juga terkena imbas pembatalan ini, menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya pada inovasi kesehatan.
Menteri HHS Robert F. Kennedy Jr. dikenal skeptis terhadap vaksin mRNA dan telah mengeluarkan kebijakan tidak merekomendasikan vaksin Covid-19 berbasis mRNA untuk anak-anak sehat dan ibu hamil. Ia berargumen bahwa teknologi mRNA membawa risiko lebih besar dibanding manfaatnya untuk penyakit pernapasan, meskipun ini bertentangan dengan konsensus ilmiah yang menyatakan keamanan dan efektivitas vaksin tersebut dalam mencegah kematian dan rawat inap.
Beberapa proyek yang terkena pembatalan kontrak bahkan tidak berhubungan dengan vaksin mRNA, seperti pengembangan terapi berbasis RNA interference (RNAi) untuk flu H1N1 oleh Tiba Biotech. Hal ini mengejutkan banyak pihak karena proyek tersebut sudah hampir selesai dan menggunakan pendekatan RNA yang berbeda dari mRNA. Demikian pula, Emory University juga kehilangan kontrak untuk mengembangkan pengobatan antivirus dalam bentuk inhalasi, meski bukan vaksin.
Meskipun riset vaksin mRNA berkurang, pemerintah AS masih mendukung riset terapi mRNA untuk penyakit serius seperti kanker dan gangguan genetik. Contohnya, pengobatan pengeditan gen berbasis mRNA yang berhasil menyembuhkan bayi dengan penyakit langka hati telah mendapat lampu hijau dari FDA. Ini menandai terobosan penting yang dapat membawa pengembangan terapi medis yang dipersonalisasi dan revolusioner.
Para ahli meyakini teknologi mRNA tetap memiliki potensi besar di luar bidang vaksin Covid-19, terutama di bidang pengobatan yang sangat kompleks dan individual seperti kanker dan terapi genetik. Namun, keputusan menghentikan riset vaksin mRNA mungkin menghambat kesiapan menghadapi pandemi yang akan datang, dengan resiko berkurangnya inovasi dan perlindungan kesehatan masyarakat secara luas.
Analisis Ahli
Jonathan Kagan
Menyatakan bahwa mRNA adalah teknologi alami dan sangat potensial yang kemajuannya sering kali dikaburkan oleh stigma politik seputar vaksin Covid.Jay Bhattacharya
Meyakini mRNA berpotensi besar untuk terapi masa depan tetapi menghentikan riset vaksin mRNA karena hilangnya kepercayaan publik.Marty Makary
Mengapresiasi kemajuan terapi gen editing berbasis mRNA dan mendukung proses regulasi yang mempermudah inovasi medis baru.

