AI summary
Literasi bencana dan evakuasi cepat sangat penting dalam mengurangi risiko korban jiwa saat bencana. Praktik komunitas dalam membangun kesadaran bencana terbukti efektif dan dapat diadopsi di negara lain. Komunikasi yang tepat mengenai risiko bencana dapat mencegah kepanikan dan dampak negatif pada masyarakat. Jepang dikenal berhasil menekan jumlah korban jiwa saat tsunami tidak hanya karena teknologi peringatan dini canggih, tetapi juga karena literasi masyarakat yang tinggi untuk evakuasi cepat. Makoto Takahashi dari Universitas Nagoya menegaskan bahwa permasalahan utama adalah ketidakmauan masyarakat untuk segera bertindak setelah mendapatkan peringatan tsunami.Desa Nishiki di Jepang Tengah menjadi contoh sukses penerapan literasi bencana melalui pembangunan fasilitas evakuasi, pembentukan budaya sadar bencana, serta sistem peringatan berbasis komunitas. Selain itu, mereka juga sudah merelokasi penduduk ke tempat yang lebih tinggi agar lebih aman dari tsunami, terutama lansia yang rentan.Setelah tsunami dan gempa Jepang Timur 2011, pemerintah Jepang menaikkan asumsi risiko gempa Nankai Trough ke kategori maksimum untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan memperkuat strategi pengurangan risiko. Namun, penting juga bagi komunikasi risiko dilakukan dengan cara yang sederhana dan tidak menimbulkan ketakutan berlebihan agar ekonomi tidak terdampak negatif.Pusat Riset Kependudukan BRIN bersama Universitas Nagoya menyelenggarakan kuliah umum yang menekankan pentingnya literasi kebencanaan di Indonesia. Ali Yansyah Abdurrahim berharap kegiatan ini bisa memperkuat pemahaman akademik dan membuka peluang kerja sama internasional yang lebih konkret antara Indonesia dan Jepang.Dari pelajaran Jepang, Indonesia diharapkan dapat mengadopsi pendekatan literasi bencana, simulasi, dan sistem evakuasi yang adaptif sesuai kondisi lokal. Dengan pendidikan dan kesiapsiagaan yang terus-menerus, risiko korban jiwa akibat bencana tsunami di Indonesia diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan pendidikan dan budaya kesiapsiagaan masyarakat. Indonesia harus fokus membangun kesadaran dan kemampuan tindakan cepat masyarakat secara berkelanjutan agar mitigasi bencana lebih optimal.