Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Tantangan Besar HR di 2025: PHK Serial, AI, dan Program DEI yang Tertekan

Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
management-and-strategy (7mo ago) management-and-strategy (7mo ago)
26 Agt 2025
46 dibaca
2 menit
Tantangan Besar HR di 2025: PHK Serial, AI, dan Program DEI yang Tertekan

Rangkuman 15 Detik

Perusahaan perlu berinvestasi dalam pengalaman karyawan meskipun ada tekanan untuk memotong biaya.
Adopsi AI harus dilakukan dengan hati-hati dan harus ada pelatihan yang memadai untuk karyawan.
DEI harus dirancang dengan tujuan bisnis yang jelas agar tetap relevan dan efektif.
Tahun 2025 hadir dengan tantangan baru bagi dunia sumber daya manusia (HR), dimana banyak perusahaan Amerika Serikat harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) berulang kali. PHK serial ini mengakibatkan penurunan investasi dalam inisiatif kesejahteraan karyawan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan risiko bagi pengalaman kerja dan pelayanan pelanggan perusahaan. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di perusahaan semakin umum, tapi masih banyak hambatan terkait pelatihan karyawan dan pemanfaatan teknologi ini secara efektif. Studi menunjukkan bahwa sebagian besar program AI tidak memberikan dampak signifikan terhadap keuntungan perusahaan, dan banyak proyek AI yang berpotensi dibatalkan di masa depan karena biaya dan nilai bisnis yang tidak jelas. Di sisi lain, program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) menghadapi tekanan besar terutama karena kebijakan pemerintah yang menentang DEI dan penyelidikan yang ketat dari badan federal. Namun, beberapa perusahaan seperti Feast & Fettle menyesuaikan program DEI mereka dengan fokus pada mobilitas ekonomi dan dukungan terhadap berbagai latar belakang karyawan demi hasil bisnis yang nyata. Karyawan kini semakin menuntut fleksibilitas dalam bekerja, terutama setelah pandemi mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan. Perusahaan yang menerapkan strategi kembali ke kantor (RTO) harus meyakinkan karyawan dengan memberikan alasan kuat dan pengalaman yang berbeda ketika di kantor agar tak dianggap sebagai bentuk pemaksaan. Secara keseluruhan, HR berada di posisi sulit karena dihadapkan pada tekanan untuk mengimplementasikan teknologi dan kebijakan baru yang kadang tidak realistis, sambil harus menjaga hubungan baik dengan karyawan dan menjawab tantangan pasar tenaga kerja yang terus berubah.

Analisis Ahli

Emily Rose McRae
Menggambarkan situasi AI sebagai pedang bermata dua yang memerlukan pelatihan intensif dan redefinisi ekspektasi dari para eksekutif, memperingatkan bahwa manfaat AI belum seberapa tanpa persiapan yang matang.