Boeing Gunakan Program QF-16 untuk Perbaiki Reputasi Ditengah Krisis
Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
18 Jun 2025
244 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Program QF-16 menawarkan kesempatan bagi Boeing untuk membangun kembali reputasi mereka di sektor pertahanan.
Boeing masih menghadapi berbagai tantangan dan kontroversi yang merugikan kinerjanya secara keseluruhan.
Pengembangan QF-16 menunjukkan kemajuan yang relatif lancar dibandingkan dengan proyek komersial lainnya.
Boeing Defense, Space & Security mendapat kontrak senilai Rp 170.34 miliar ($10,2 juta) untuk mengonversi jet tempur F-16 yang sudah pensiun menjadi target udara QF-16 yang canggih. Program ini penting untuk mendukung pengujian berbagai rudal dengan menghadirkan target yang realistis dan mampu melakukan manuver supersonik serta tahan hingga gaya 9-g.
Meskipun Boeing menghadapi banyak masalah berat di lini pesawat komersial, termasuk kecelakaan 787 Dreamliner dan masalah keamanan serta produksi di 737 MAX, proyek pertahanan QF-16 ini berjalan relatif lancar. Boeing berharap proyek ini dapat membantu memperbaiki citra perusahaan yang tengah terpuruk.
Sejak dekade 1960-an, Angkatan Udara AS sudah menggunakan pesawat tempur yang dikonversi menjadi target udara tanpa awak untuk latihan tembak langsung, dan QF-16 ini akan menggantikan QF-4 Phantom yang sudah usang, dengan target aviasi modern generasi keempat.
Program QF-16 melibatkan penghapusan senjata dan radar, serta pemasangan sistem avionik tak berawak, termasuk telemetry dan sistem penghentian penerbangan, agar dapat digunakan sebagai target uji coba keselamatan dan efektivitas sistem persenjataan terbaru.
Di tengah penurunan bisnis pesawat komersial dan keterlambatan proyek pertahanan lainnya, kontrak QF-16 menjadi titik cerah bagi Boeing yang menunjukkan kemajuan stabil dan harapan bangkit kembali, meskipun jalur pemulihan masih penuh tantangan besar.



