Penggunaan Energi AI Meningkat Pesat, Mengancam Target Lingkungan Tech Besar
Sains
Iklim dan Lingkungan
23 Mei 2025
167 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Penggunaan energi oleh AI dapat melampaui bitcoin mining dalam waktu dekat.
Perusahaan teknologi besar seperti Google dan Microsoft menghadapi tantangan dalam mencapai target keberlanjutan mereka karena meningkatnya permintaan energi dari AI.
Keterbatasan informasi mengenai penggunaan energi AI mempersulit penilaian dampak lingkungan dari teknologi ini.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pusat data di seluruh dunia telah menjadi penyebab utama meningkatnya konsumsi listrik. Penelitian terbaru menunjukkan AI saat ini menyumbang hingga 20 persen dari seluruh listrik yang digunakan pusat data, dan angka ini dapat meningkat hingga separuh pada akhir tahun bila kapasitas produksi perangkat AI berkembang pesat.
Perusahaan seperti Google dan Microsoft menggunakan sumber daya energi yang besar untuk mengembangkan dan mengoperasikan model AI yang kompleks, sehingga berdampak negatif pada target iklim mereka, seperti komitmen Google untuk mencapai net zero pada 2030 yang kini menjadi lebih sulit dicapai.
Salah satu faktor yang membuat evaluasi penggunaan energi AI menjadi kompleks adalah kurangnya transparansi dari perusahaan besar, sehingga para peneliti terpaksa menggunakan metode tidak langsung untuk memperkirakan konsumsi energi melalui data produksi chip dan kapasitas pusat data.
Penggunaan AI telah melampaui aktivitas intensif energi lain seperti mining bitcoin, dan kapasitas produksi chip yang dikendalikan oleh perusahaan seperti TSMC menjadi bottleneck penting dalam rantai pasok global AI, yang juga menjadi faktor kunci dalam konsumsi energi total AI.
Para ahli menyarankan agar perusahaan teknologi membuka data penggunaan energi mereka agar penilaian yang lebih akurat dapat dilakukan, sehingga dapat membantu mengembangkan solusi berkelanjutan untuk menjaga pertumbuhan teknologi AI tanpa mengorbankan lingkungan.


