Nvidia dan AMD Rilis GPU AI Versi Terbatas untuk Pasar China Karena Pembatasan AS
Teknologi
Kecerdasan Buatan
29 Mei 2025
292 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Nvidia dan AMD akan menjual GPU AI baru yang disesuaikan untuk pasar China.
Pembatasan ekspor teknologi ke China berdampak signifikan pada pendapatan Nvidia.
Nvidia sedang berusaha mengembangkan chip AI budget sebagai respons terhadap regulasi yang ada.
Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan aturan yang membatasi ekspor teknologi semikonduktor canggih ke China, termasuk GPU yang biasanya digunakan untuk kecerdasan buatan. Akibatnya, perusahaan-perusahaan besar seperti Nvidia dan AMD harus menyesuaikan produk mereka agar dapat tetap menjual GPU AI di pasar China.
Nvidia mengembangkan versi GPU AI yang lebih sederhana dengan kode nama B20 untuk dijual di China. Sementara itu, AMD juga mempersiapkan GPU baru bernama Radeon AI PRO R9700 yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan AI di China. Produk-produk ini diharapkan mulai dijual pada bulan Juli.
Untuk menarik pasar China, Nvidia merancang chip AI dengan harga lebih murah yang berbasis arsitektur Blackwell. Harga chip ini diperkirakan sekitar Rp 108.55 ribu ($6.500) sampai Rp 133.60 ribu ($8.000) , lebih rendah dibandingkan harga H20 yang mencapai Rp 167.00 ribu ($10.000) sampai Rp 200.40 ribu ($12.000) per unit.
Karena pembatasan ini, Nvidia harus mencatat kerugian besar. Pada kuartal pertama, perusahaan menghadapi beban biaya sebesar Rp 75.15 triliun ($4,5 miliar) karena keterbatasan lisensi untuk menjual GPU H20 ke China, ditambah tidak bisa mengirim chip senilai Rp 41.75 triliun ($2,5 miliar) . Mereka memproyeksikan kerugian pendapatan hingga Rp 133.60 triliun ($8 miliar) pada kuartal kedua.
Dengan strategi menjual versi GPU AI yang disesuaikan dan harga kompetitif, Nvidia dan AMD berusaha tetap kuat di pasar China sekaligus mematuhi aturan ketat dari pemerintah Amerika Serikat terkait teknologi semikonduktor.

