Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Unjuk Rasa Pengemudi Ojek Online Jakarta Hanya Diikuti Ratusan Driver, Layanan Tetap Lancar

Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
management-and-strategy (10mo ago) management-and-strategy (10mo ago)
20 Mei 2025
292 dibaca
1 menit
Unjuk Rasa Pengemudi Ojek Online Jakarta Hanya Diikuti Ratusan Driver, Layanan Tetap Lancar

Rangkuman 15 Detik

Jumlah peserta unjuk rasa pengemudi ojol jauh dari estimasi awal.
Layanan ojol tetap berjalan normal meskipun ada aksi demonstrasi.
Kebanyakan pengemudi ojol lebih memilih jalur dialog ketimbang aksi massa.
Pada tanggal 20 Mei, serikat pengemudi ojek online menggelar unjuk rasa di Patung Kuda, Jakarta. Awalnya aksi ini diperkirakan akan diikuti oleh ratusan ribu pengemudi, tetapi pada kenyataannya hanya dihadiri oleh ratusan orang saja. Aksi berlangsung tertib dan tidak terjadi kemacetan atau gangguan besar pada lalu lintas. Sebagian besar pengemudi lebih memilih untuk tetap beroperasi dan melayani konsumen mereka, sehingga layanan ojek online berjalan normal. Upaya mematikan aplikasi atau melakukan offbid massal yang dikhawatirkan tidak terjadi. Konsumen tetap bisa memesan ojek online tanpa masalah selama aksi berlangsung, dan sebagian driver tetap mengenakan jaket dan helm seragam saat bekerja. Beberapa driver memilih untuk tidak menggunakan jaket agar tidak berisiko diberhentikan oleh aplikator, namun mereka tetap menjalankan pekerjaannya demi kebutuhan hidup yang berbeda-beda. Masyarakat dan netizen di media sosial beragam memberikan komentar, ada yang menyampaikan bahwa aksi demo tidak banyak berdampak, dan ada juga yang memuji para driver yang tetap fokus mencari penghasilan dengan bijak.

Analisis Ahli

Dr. Budi Santoso (Ekonom Transportasi)
Unjuk rasa yang relatif kecil ini menunjukkan tingginya ketergantungan pengemudi ojol terhadap pendapatan harian, sehingga mereka cenderung berpikir realistis dalam memilih bentuk protes yang tidak merugikan diri sendiri.
Prof. Lina Wardhani (Sosiolog)
Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi dalam aksi kolektif kelompok marginal karena keterbatasan sumber daya dan tekanan ekonomi, sehingga dialog lebih dipilih sebagai jalan penyelesaian.