AI summary
China sedang berusaha menarik kembali ilmuwan yang terpengaruh oleh kebijakan di AS. Gaji yang ditawarkan untuk posisi penelitian di China sangat kompetitif dibandingkan dengan AS. Kebebasan akademik di AS mengalami penurunan, yang mempengaruhi keputusan ilmuwan untuk kembali ke China. Sejak pemerintahan Trump memotong dana penelitian dan membatasi kebebasan akademik, banyak ilmuwan kelahiran China yang bekerja di Amerika Serikat merasa tertekan dan mempertimbangkan untuk kembali ke China.Untuk menarik para ilmuwan ini, institusi di China meluncurkan program rekrutmen dengan tawaran gaji tinggi dan posisi postdoctoral yang sangat menarik, mencapai sekitar US$100.000 per tahun selama tiga tahun.Jumlah gaji tersebut setara dengan posisi asisten profesor dan dua kali lipat dari gaji postdoctoral biasa, baik di China maupun AS, sehingga cukup menggoda bagi ilmuwan yang sedang mencari stabilitas finansial dan kebebasan akademik.Meskipun banyak ilmuwan saat ini sedang mempertimbangkan untuk kembali ke China, mereka cenderung merahasiakan keputusan mereka sampai sudah benar-benar final agar tidak menimbulkan kontroversi atau tekanan.Situasi ini menunjukkan perubahan besar dalam persaingan global dalam hal retensi dan perekrutan ilmuwan berbakat, terutama dalam konteks ketegangan politik dan perubahan kebijakan di Amerika Serikat.
Langkah Tiongkok ini sangat strategis karena mereka memanfaatkan kondisi politik dan ekonomi di AS yang kurang kondusif untuk ilmuwan asing. Sementara itu, bagi AS, kebijakan seperti ini malah akan merugikan dirinya sendiri karena kehilangan talenta andalan di bidang riset yang sangat krusial untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.