Fosil Archaeopteryx Baru Ungkap Rahasia Terbang Burung Prasejarah
Sains
Iklim dan Lingkungan
14 Mei 2025
169 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Chicago Archaeopteryx memberikan wawasan baru tentang evolusi burung dan kemampuan terbang.
Teknik pemindaian CT dan pencahayaan ultraviolet sangat membantu dalam analisis fosil.
Penelitian ini mendukung ide bahwa beberapa dinosaurus berevolusi untuk terbang lebih dari satu kali.
Penemuan fosil Archaeopteryx yang telah lama menjadi kunci dalam memahami evolusi burung semakin diperkuat oleh fosil baru bernama Chicago Archaeopteryx. Fosil ini berasal dari Jerman dan merupakan yang terkecil serta paling rinci yang pernah ditemukan, dengan jaringan lunak dan tulang-tulang yang sangat terawetkan.
Teknologi modern seperti CT scan dan sinar ultraviolet digunakan untuk mempelajari fosil ini tanpa merusaknya. Teknologi ini membantu ilmuwan mengetahui posisi tulang dan memperlihatkan jaringan lunak yang biasanya sulit terlihat pada fosil lainnya.
Studi mendalam mengungkap bahwa Archaeopteryx tidak hanya mampu terbang, tetapi juga aktif di darat dan bisa memanjat pohon. Bukti ini datang dari pengamatan tulang tangan dan kaki serta bentuk kepala yang mirip dengan burung modern yang punya kemampuan bergerak mandiri.
Salah satu penemuan paling menarik adalah adanya bulu tertial panjang pada sayapnya, yang berfungsi mengisi celah yang jika ada akan mengganggu kemampuan terbang. Ini berbeda dengan dinosaurus berbulu yang sayapnya berhenti di siku dan tidak memiliki bulu panjang tersebut.
Penemuan ini juga memperkuat hipotesis bahwa evolusi kemampuan terbang terjadi lebih dari sekali dalam sejarah dinosaurus. Studi fosil ini membantu ilmuwan memahami asal usul burung dan bagaimana kemampuan terbang pertama kali muncul di bumi.
Analisis Ahli
Jingmai O’Connor
Penemuan bulu tertial panjang pada Chicago Archaeopteryx membuktikan bukti kuat bahwa makhluk ini bisa terbang, berbeda dengan dinosaurus berbulu non-avian yang sayapnya berhenti di siku.

