Marks & Spencer Jadi Korban Serangan Siber, Data Pelanggan Terancam Bocor
Teknologi
Keamanan Siber
13 Mei 2025
195 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Marks & Spencer mengalami pencurian data pelanggan akibat serangan siber.
DragonForce merupakan kelompok peretas yang mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan terhadap ritel di Inggris.
Dampak dari serangan ini meliputi gangguan operasional yang signifikan bagi Marks & Spencer.
Marks & Spencer, salah satu toko ritel terbesar di Inggris, mengalami serangan siber yang mengakibatkan pencurian data pribadi pelanggan. Data yang dicuri antara lain nama, tanggal lahir, alamat rumah dan email, nomor telepon, hingga riwayat pesanan online. Perusahaan ini sedang melakukan reset password untuk pelanggan guna mengamankan akun mereka.
Gang ransomware bernama DragonForce mengaku bertanggung jawab atas serangan ini dan juga mengklaim telah mencuri data jutaan pelanggan dari toko peritel lainnya seperti Co-op dan Harrods. Kelompok ini menggunakan data tersebut untuk memeras perusahaan-perusahaan tersebut.
Serangan ini tidak hanya berdampak pada keamanan data, tetapi juga mengganggu operasi Marks & Spencer secara keseluruhan. Beberapa toko mengalami gangguan layanan, termasuk sistem pemesanan online yang tetap offline, dan beberapa rak bahan makanan di toko menjadi kosong.
Co-op awalnya menyangkal bahwa terjadi pencurian data, namun kemudian mengakui bahwa data pribadi pelanggan mereka juga ikut dicuri dalam insiden yang sama. Data tersebut mencakup informasi identitas pribadi yang cukup lengkap.
Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris saat ini bekerja sama dengan perusahaan yang terkena serangan dan aparat penegak hukum untuk menyelidiki lebih lanjut dan mencegah insiden serupa di masa depan.
Analisis Ahli
Bruce Schneier
Serangan ini menyoroti pentingnya keamanan siber yang proaktif, di mana perusahaan harus memperlakukan data pelanggan sebagai aset yang kritis dan siap menghadapi ancaman dari kelompok kriminal dunia maya yang kian canggih.


