Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga Minyak Naik 2% Didukung Harapan Kesepakatan Dagang AS-China

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (10mo ago) investment-and-capital-markets (10mo ago)
08 Mei 2025
88 dibaca
1 menit
Harga Minyak Naik 2% Didukung Harapan Kesepakatan Dagang AS-China

Rangkuman 15 Detik

Kenaikan harga minyak didorong oleh harapan akan kemajuan dalam pembicaraan perdagangan antara AS dan Cina.
OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak, yang dapat mempengaruhi harga di pasar global.
Proyeksi harga minyak jangka pendek menunjukkan kemungkinan penurunan harga Brent.
Harga minyak dunia menunjukkan kenaikan lebih dari 2% karena adanya harapan positif terhadap pembicaraan perdagangan yang akan datang antara Amerika Serikat dan Cina, dua konsumen minyak terbesar di dunia. Pembicaraan ini dianggap penting karena dapat mengurangi ketidakpastian pasar yang selama ini dipicu oleh ketegangan dagang. Pada saat yang sama, Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan perdagangan baru dengan Inggris yang menciptakan zona perdagangan untuk aluminium dan baja, juga meningkatkan keamanan rantai pasokan farmasi. Hal ini memberikan dorongan tambahan bagi pasar energi. OPEC+ mengumumkan rencana untuk menaikkan produksi minyak, yang berpotensi menekan harga minyak dalam jangka pendek. Namun, analis memperingatkan bahwa ketegangan perdagangan tetap menjadi faktor utama volatilitas harga saat ini. Selain itu, pertemuan antara pejabat ekonomi AS dan Cina dijadwalkan untuk membahas penyelesaian sengketa dagang yang telah mengganggu pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi minyak, sehingga hasilnya sangat dinantikan oleh para pelaku pasar. Sebagai tambahan, ketidakpastian mengenai perjanjian nuklir antara AS dan Iran juga berpengaruh. Jika kesepakatan tercapai, pasar diperkirakan akan mendapat suplai minyak lebih banyak sehingga harga bisa turun, namun jika tidak, harga minyak berpotensi melonjak lebih dari 70 dolar per barel.

Analisis Ahli

Jim Ritterbusch
Pasar minyak saat ini dipengaruhi oleh premi tarif yang akan terus berfluktuasi sesuai dengan berita terbaru dari pemerintahan Trump, menggantikan premi risiko global yang sebelumnya mempengaruhi harga minyak.