Harga Minyak Stabil Didukung Harapan Negosiasi Dagang AS-China
Bisnis
Ekonomi Makro
08 Mei 2025
269 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Harga minyak dipengaruhi oleh dinamika perdagangan antara AS dan Cina.
OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak, yang dapat mempengaruhi harga pasar.
Keputusan Federal Reserve tentang suku bunga memiliki dampak signifikan pada pasar komoditas.
Harga minyak dunia pada Kamis menunjukkan kestabilan dengan Brent crude mencapai Rp 102.79 juta ($61,55) per barel dan West Texas Intermediate berada di Rp 97.80 juta ($58,56) per barel. Kondisi ini didukung oleh harapan adanya terobosan dalam negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan China, dua negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia.
Situasi perdagangan global tercermin dari rencana pertemuan antara Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dan pejabat ekonomi China yang dijadwalkan berlangsung pada 10 Mei di Swiss. Negosiasi ini diharapkan dapat mengurangi ketegangan perdagangan yang selama ini menghambat pertumbuhan konsumsi minyak dunia.
Namun, ada tekanan yang berpotensi menurunkan harga minyak karena keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi minyak. Produksi tambahan ini bisa menambah pasokan minyak yang pada akhirnya menekan harga di pasar global.
Analis dari Citi Research menurunkan perkiraan harga minyak Brent untuk tiga bulan ke depan menjadi Rp 918.50 ribu ($55) per barel, lebih rendah dari prediksi sebelumnya. Mereka juga menyebut bahwa kemungkinan kesepakatan nuklir antara AS dan Iran dapat menekan harga minyak lebih jauh, sementara ketidakpastian kesepakatan dapat membuat harga naik hingga di atas Rp 1.17 juta ($70) per barel.
Sementara itu, Federal Reserve Amerika Serikat memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunganya dan memperingatkan risiko inflasi dan pengangguran yang lebih tinggi. Keputusan itu turut memperkuat nilai dolar AS, yang menjadi tantangan tambahan bagi pasar komoditas secara umum, termasuk minyak.
Analisis Ahli
Ole Hvalbye
Pasar minyak hampir stabil di level di atas 61 dolar AS per barel dan didukung oleh optimisme situasi tarif antara AS dan China.Citi Research
Menurunkan proyeksi harga Brent dalam tiga bulan ke depan dari 60 menjadi 55 dolar AS per barel, tetapi mempertahankan proyeksi jangka panjang di 60 dolar AS.