Terobosan Obat Baru Targetkan RNA ‘Sampah’ untuk Atasi Penyakit Jantung
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
08 Mei 2025
114 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Penelitian menunjukkan bahwa RNA non-koding memiliki peran penting dalam pengaturan gen dan dapat menjadi target obat yang potensial.
Haya Therapeutics berhasil mengumpulkan dana untuk penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan terapi baru untuk penyakit jantung.
Kegagalan obat Bristol Myers Squibb membuka peluang bagi perusahaan lain dalam pengobatan kardiomiopati non-obstruktif.
Dulu, banyak ilmuwan menganggap DNA yang tidak menghasilkan protein sebagai sampah tanpa fungsi. Tapi sekarang, DNA ini ternyata sangat penting karena menghasilkan RNA yang dapat mengatur apakah suatu gen aktif atau tidak.
Perusahaan bioteknologi seperti Haya Therapeutics sedang mengembangkan obat baru dengan menargetkan RNA ini, terutama untuk penyakit berat seperti penyakit jantung bawaan dan obesitas yang sulit disembuhkan selama ini.
Haya baru saja mendapatkan dana investasi sebesar 65 juta dolar untuk mempercepat pengembangan obat utama mereka yang bisa membantu pasien dengan bentuk penyakit jantung yang belum banyak obatnya, yaitu non-obstructive hypertrophic cardiomyopathy.
Obat yang sedang dikembangkan Haya bekerja berbeda dari obat-obat sebelumnya, sebab mereka menargetkan molekul RNA bernama Wisper yang menyebabkan jaringan jantung menebal dan membentuk jaringan parut berbahaya.
Saat ini pengujian klinis akan segera dimulai, dan jika sukses, metode ini bisa membuka jalan baru dalam pengobatan berbagai penyakit kronis dengan memanfaatkan bagian DNA yang dulu dianggap tidak berguna.
Analisis Ahli
Dr. Elizabeth Blackburn (Nobel Laureate in Molecular Biology)
Targeting long non-coding RNAs opens a promising frontier in therapeutics, but translating findings from bench to bedside requires overcoming significant biological complexity.Dr. Eric Topol (Cardiologist and Researcher)
Innovative RNA-guided therapies for cardiac diseases could change treatment paradigms, yet clinical validation remains critical to ascertain safety and efficacy.
