AI summary
Letusan Hunga Tonga-Hunga Ha‘apai pada 2022 adalah salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Dampak letusan ini mencapai termosfer, mempengaruhi satelit dan teknologi penting lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa gelombang gravitasi sekunder adalah penyebab utama gangguan di atmosfer atas. Pada 15 Januari 2022, gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha‘apai di Pasifik meletus dengan kekuatan yang luar biasa, mengirimkan material hingga ketinggian lebih dari 50 km. Letusan ini tidak hanya mempengaruhi lautan dan atmosfer bawah, tetapi juga berdampak pada termosfer, tempat satelit orbit rendah Bumi berada. Penelitian baru menemukan bahwa letusan ini menyebabkan gangguan signifikan di atmosfer atas.Para peneliti dari University of Science and Technology of China menggunakan data satelit GRACE-FO dan model atmosfer untuk menyelidiki dampak letusan ini. Mereka menemukan bahwa gelombang gravitasi sekunder adalah penyebab utama gangguan di atmosfer atas. Gelombang ini mampu mencapai bagian atas atmosfer, tempat satelit berada, yang biasanya tidak terpengaruh oleh letusan gunung berapi.Penelitian ini menunjukkan bahwa letusan gunung berapi Tonga menghasilkan gelombang kejut yang sangat besar sehingga menyebabkan gangguan signifikan di atmosfer atas. Temuan ini menyoroti dampak besar dari peristiwa permukaan seperti letusan gunung berapi pada bagian atas atmosfer Bumi, yang penting untuk teknologi komunikasi dan prakiraan cuaca. Letusan ini dianggap sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern dan mungkin yang terbesar di abad ke-21.
Letusan ini memperlihatkan betapa kompleks dan kuatnya interaksi antara fenomena geologi dan atmosfer, yang selama ini mungkin kurang diperhatikan dalam studi atmosfer tinggi. Penemuan gelombang gravitasi sekunder ini membuka peluang baru untuk memahami bagaimana gangguan lokal di permukaan bumi dapat berpengaruh hingga ketinggian ekstrem dan mempengaruhi teknologi modern.