Pembatasan Ekspor Chip Nvidia ke China Picu Kerugian Besar dan Penurunan Saham
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
17 Apr 2025
195 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Pembatasan ekspor chip Nvidia ke China dapat berdampak signifikan pada pendapatan perusahaan.
Persaingan di pasar AI China semakin ketat dengan munculnya alternatif lokal seperti Huawei.
Nvidia terus berupaya untuk beradaptasi dengan perubahan regulasi perdagangan yang cepat.
Saham Nvidia turun hampir 7% setelah pemerintah AS mengumumkan kontrol baru pada ekspor semikonduktor ke China, yang mengharuskan lisensi khusus untuk ekspor chip H20. Nvidia mengatakan akan mengalami kerugian Rp 91.85 triliun ($5,5 miliar) pada kuartal pertama akibat pembatasan ini. Jefferies memperkirakan kerugian pendapatan bisa mencapai Rp 167.00 triliun ($10 miliar) dalam beberapa kuartal mendatang.
Pembatasan ini mengejutkan banyak analis Wall Street, mengingat laporan sebelumnya bahwa pemerintah AS telah mundur dari rencana untuk membatasi chip H20. Beberapa analis berpendapat bahwa larangan ini tidak masuk akal karena kinerja H20 lebih rendah dari alternatif China yang sudah tersedia. Saham perusahaan semikonduktor lainnya seperti AMD, Broadcom, Qualcomm, dan Intel juga mengalami penurunan.
Nvidia telah membuat beberapa chip khusus untuk China sejak 2022 untuk mematuhi aturan perdagangan yang terus berubah. China menyumbang Rp 283.90 triliun ($17 miliar) atau 13% dari pendapatan Nvidia pada tahun fiskal 2025. Pembatasan baru ini datang hanya dua hari setelah Nvidia mengumumkan akan memproduksi hingga Rp 8.35 quadriliun ($500 miliar) infrastruktur AI di AS dalam empat tahun ke depan.
Analisis Ahli
Blayne Curtis
Larangan ekspor chip H20 akan menyebabkan Nvidia harus membuang banyak stok barang yang tidak terpakai dan memperbesar dampak keuangan negatif di kuartal mendatang.Stacy Rasgon
Larangan chip berperforma rendah seperti H20 tidak masuk akal karena hanya memberikan keunggulan pasar AI China pada perusahaan lokal seperti Huawei.Ed Mills
Pembatasan ini mengejutkan karena sebelumnya ada persetujuan eksplisit dari pemerintahan Biden terhadap produk tersebut.