AI summary
Kenaikan tarif oleh China terhadap barang-barang AS dapat memperburuk ketegangan perdagangan dan mempengaruhi pasar minyak. OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak, yang dapat menekan harga lebih lanjut. JP Morgan dan Goldman Sachs memperkirakan risiko resesi global meningkat, yang dapat berdampak negatif pada permintaan minyak. Harga minyak turun hampir 8% pada hari Jumat, menuju penutupan terendah sejak pertengahan pandemi pada tahun 2021. Penurunan ini terjadi setelah China mengumumkan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 34% pada semua barang dari AS mulai 10 April. Hal ini meningkatkan ketegangan dalam perang dagang global dan membuat investor khawatir tentang kemungkinan resesi ekonomi. Harga minyak Brent dan WTI mencapai level terendah dalam empat tahun.Bank investasi JP Morgan memperkirakan kemungkinan resesi global meningkat menjadi 60% pada akhir tahun, naik dari 40% sebelumnya. Selain minyak, harga komoditas lain seperti gas alam, kedelai, dan emas juga turun, sementara pasar saham global mengalami penurunan. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa tarif baru ini dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.OPEC+ juga memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak, yang menambah tekanan pada harga. Meskipun ada pengecualian untuk impor minyak dan produk terkait dari tarif baru, kebijakan ini dapat memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Beberapa analis, termasuk dari Goldman Sachs dan HSBC, telah memangkas proyeksi harga minyak dan pertumbuhan permintaan minyak global di masa depan.
Kebijakan tarif yang semakin agresif antara China dan AS sangat mungkin memperdalam tekanan terhadap pasar minyak yang tengah rapuh, memperparah ketidakpastian ekonomi global. Di saat yang sama, keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi dapat menambah tekanan turun pada harga minyak, membuat pasar menghadapi volatilitas yang sulit diprediksi.