Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga Minyak Turun Drastis Karena Perang Dagang dan Produksi OPEC+ Meningkat

Bisnis
Ekonomi Makro
macro-economics (11mo ago) macro-economics (11mo ago)
04 Apr 2025
48 dibaca
1 menit
Harga Minyak Turun Drastis Karena Perang Dagang dan Produksi OPEC+ Meningkat

Rangkuman 15 Detik

Kenaikan tarif oleh China terhadap barang-barang AS dapat memperburuk ketegangan perdagangan dan mempengaruhi pasar minyak.
OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak, yang dapat menekan harga lebih lanjut.
JP Morgan dan Goldman Sachs memperkirakan risiko resesi global meningkat, yang dapat berdampak negatif pada permintaan minyak.
Harga minyak turun hampir 8% pada hari Jumat, menuju penutupan terendah sejak pertengahan pandemi pada tahun 2021. Penurunan ini terjadi setelah China mengumumkan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 34% pada semua barang dari AS mulai 10 April. Hal ini meningkatkan ketegangan dalam perang dagang global dan membuat investor khawatir tentang kemungkinan resesi ekonomi. Harga minyak Brent dan WTI mencapai level terendah dalam empat tahun. Bank investasi JP Morgan memperkirakan kemungkinan resesi global meningkat menjadi 60% pada akhir tahun, naik dari 40% sebelumnya. Selain minyak, harga komoditas lain seperti gas alam, kedelai, dan emas juga turun, sementara pasar saham global mengalami penurunan. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa tarif baru ini dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. OPEC+ juga memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak, yang menambah tekanan pada harga. Meskipun ada pengecualian untuk impor minyak dan produk terkait dari tarif baru, kebijakan ini dapat memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Beberapa analis, termasuk dari Goldman Sachs dan HSBC, telah memangkas proyeksi harga minyak dan pertumbuhan permintaan minyak global di masa depan.

Analisis Ahli

Scott Shelton
Harga minyak sudah mendekati nilai wajar namun berpotensi jatuh ke mid hingga high $50-an dengan volatilitas yang besar akibat penurunan permintaan.
Jerome Powell
Tarif yang lebih besar dari perkiraan akan memicu inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, menyulitkan keputusan kebijakan moneter AS.
Daan Struyven (Goldman Sachs)
Risiko terhadap harga minyak yang lebih rendah semakin tinggi, terutama pada 2026 karena ancaman resesi yang membesar dan peningkatan suplai OPEC+.