Harga Minyak Turun Tajam Karena Perang Dagang dan Lonjakan Pasokan OPEC+
Bisnis
Ekonomi Makro
30 Apr 2025
273 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Harga minyak mengalami penurunan terbesar dalam hampir tiga setengah tahun akibat perang dagang.
OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak, yang dapat menambah tekanan pada harga.
Kondisi ekonomi global menunjukkan tanda-tanda perlambatan, dengan dampak negatif pada permintaan minyak.
Harga minyak terus turun pada hari Rabu dan diperkirakan akan mengalami penurunan bulanan terbesar dalam hampir tiga setengah tahun. Penurunan ini disebabkan oleh perang dagang global yang mengikis prospek permintaan bahan bakar serta kekhawatiran atas pasokan yang meningkat.
Harga minyak Brent turun 1,2% menjadi Rp 106.01 juta ($63,48) per barel, sementara harga minyak WTI turun 1,2% menjadi Rp 99.67 juta ($59,68) per barel. Tarif yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 2 April memicu penurunan harga minyak, yang kemudian diperparah oleh balasan tarif dari China.
Data menunjukkan ekonomi AS menyusut pada kuartal pertama dan aktivitas pabrik China menyusut pada laju tercepat dalam 16 bulan. Kepercayaan konsumen AS juga turun ke level terendah dalam hampir lima tahun, sementara persediaan minyak mentah AS naik 3,8 juta barel minggu lalu, menambah kekhawatiran akan kelebihan pasokan.
Analisis Ahli
Shadia Nasralla
Mengamati bagaimana ketegangan perdagangan dapat berdampak signifikan pada pasar minyak dan memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika harga minyak saat ini.